Memuat waktu...

Libur Natal dan Tahun Baru Dongkrak Kunjungan ke Jatiluwih, Wisatawan Domestik Mulai Mendominasi

Balihariini • Saturday, 03 January 2026 | 09:35 WITA • Wisata • 👁 140 dibaca
Libur Natal dan Tahun Baru Dongkrak Kunjungan ke Jatiluwih, Wisatawan Domestik Mulai Mendominasi
Wisatawan mengabaikan panorama sawah terasering Jatiluwih, Tabanan _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Objek wisata Jatiluwih, Tabanan, Bali, mencatat tren peningkatan kunjungan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Kawasan sawah berundak yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO itu kini tak lagi didominasi wisatawan mancanegara, seiring meningkatnya minat wisatawan domestik.

Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Purna, mengatakan kontribusi wisatawan domestik mengalami kenaikan signifikan dibanding periode normal.

Jika sebelumnya kunjungan wisatawan lokal hanya berkisar 10 persen, kini angkanya naik hingga 15 persen bahkan lebih.

“Kami bersyukur, di bulan Desember ini kunjungan domestik meningkat tajam. Ini merupakan hasil kerja sama kami dengan pengelola media sosial untuk meningkatkan trafik Jatiluwih di ranah digital,” ujar pria yang akrab disapa Jhon ketika ditemui di Jatiluwih, Jumat, 2 Januari 2026.

Menurutnya, mayoritas wisatawan domestik yang berkunjung berasal dari Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya di Indonesia. Tren ini dinilai sebagai sinyal positif bagi diversifikasi pasar pariwisata Jatiluwih, yang selama ini bergantung pada wisatawan mancanegara.

Meski demikian, Jhon menegaskan bahwa pasar internasional masih menjadi tulang punggung utama kunjungan ke Jatiluwih. Kontribusi wisatawan mancanegara tercatat masih berada di kisaran 85 hingga 90 persen dari total kunjungan.

“Wisatawan asal Eropa, khususnya dari Prancis, Jerman, dan Italia, masih mendominasi. Selain itu, kunjungan dari negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, dan India juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan,” jelasnya.

Dari sisi jumlah kunjungan, DTW Jatiluwih mencatat pada musim sepi atau low season, rata-rata wisatawan harian berada di kisaran 700 hingga 1.000 orang.

Sementara saat musim ramai atau high season, jumlah tersebut meningkat tajam hingga 1.500 sampai 2.000 kunjungan per hari.

Di tengah tren positif tersebut, pengelola Jatiluwih masih dihadapkan pada sejumlah tantangan pariwisata Bali secara umum, mulai dari persoalan sampah, kemacetan, hingga isu overtourism yang kerap menjadi sorotan wisatawan asing.

“Saat kami melakukan sales call ke Eropa, isu sampah dan kemacetan menjadi perhatian utama para calon wisatawan,” kata Jhon.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih tegas dalam penegakan aturan pariwisata serta menghadirkan solusi konkret untuk mengurai kemacetan.

Menurutnya, kondisi lalu lintas yang semakin padat menyulitkan agen perjalanan dalam menyusun jadwal tur karena waktu tempuh yang sulit diprediksi.

Sementara terkait pengelolaan sampah, Jatiluwih mengklaim telah menerapkan sistem pengolahan sampah berbasis rumah tangga di tingkat desa.

Meski demikian, Jhon mengakui upaya tersebut masih membutuhkan dukungan lebih luas dari pemerintah daerah maupun pusat agar dapat diterapkan dalam skala yang lebih besar.