Memuat waktu...

Hadapi Lonjakan Nataru, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Siap Layani 1,5 Juta

Balihariini • Thursday, 18 December 2025 | 09:06 WITA • Wisata • 👁 77 dibaca
Hadapi Lonjakan Nataru, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Siap Layani 1,5 Juta
Suasana aktivitas penumpang di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, jelang libur Natal dan Tahun Baru / HK_01

BALIHARIINI.COM—Arus libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 diprediksi kembali memadati Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Selama periode puncak tersebut, bandara utama Pulau Dewata ini diproyeksikan melayani hingga 1,5 juta penumpang, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan.

Untuk memastikan operasional tetap berjalan aman dan lancar, PT Angkasa Pura Indonesia mengaktifkan Posko Layanan Terpadu Monitoring Angkutan Nataru mulai 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Posko ini beroperasi selama 21 hari dan berlokasi di area publik Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai.

Selama masa operasional posko, pergerakan pesawat diperkirakan mencapai 9.304 penerbangan, atau rata-rata lebih dari 440 penerbangan per hari. Lonjakan trafik tersebut turut didukung oleh pengajuan 510 extra flight yang mayoritas melayani rute domestik.

Puncak kepadatan penumpang diprediksi terjadi menjelang Hari Raya Natal, tepatnya pada 19 Desember 2025, dengan estimasi hampir 80 ribu penumpang dalam satu hari. Sementara itu, arus balik diperkirakan mencapai titik tertinggi pada 4 Januari 2026, dengan proyeksi trafik sekitar 79.481 penumpang.

Data awal operasional posko menunjukkan tren peningkatan signifikan. Dalam dua hari pertama, bandara mencatat 125.806 penumpang, atau rata-rata 62.903 penumpang per hari. Lalu lintas pesawat juga mencapai 813 pergerakan, melampaui rata-rata harian Januari–November yang berada di angka 391 pergerakan.

General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, menyatakan bahwa pengoperasian Posko Nataru menjadi bagian dari komitmen bandara bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan penumpang.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, periode Natal dan Tahun Baru selalu diikuti peningkatan trafik yang signifikan. Ini menjadi tantangan yang harus dikelola dengan baik. Sejak beberapa bulan terakhir kami sudah berkoordinasi secara intensif, baik internal maupun dengan seluruh stakeholder,” ujar Syaugi.

Ia menegaskan kesiapan bandara tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga personel, infrastruktur, hingga prosedur operasional. Selain itu, optimalisasi teknologi menjadi salah satu kunci pengendalian layanan.

“Kami mengoptimalkan sistem berbasis teknologi seperti airport collaborative decision making (ACDM) dan sistem MOT atau manajemen operasi berbasis trafik. Sistem ini mampu memprediksi kepadatan penumpang dan merekomendasikan kebutuhan fasilitas serta personel,” jelasnya.

Posko Nataru difungsikan sebagai pusat koordinasi dan pengawasan terpadu yang bekerja secara real time, termasuk dalam mengantisipasi kepadatan penumpang, peningkatan lalu lintas kendaraan, hingga potensi gangguan akibat cuaca musim hujan.

Untuk mengurai potensi kemacetan di akses menuju bandara, pihak pengelola menyiapkan pos pantau lalu lintas dengan melibatkan Polres Bandara, TNI AU, dan pecalang. Rekayasa lalu lintas, pengaturan APILL, hingga penyiapan kendaraan derek disiagakan jika situasi darurat terjadi.

Sementara itu, menghadapi musim penghujan, bandara melakukan langkah preventif melalui pemeriksaan drainase, pompa pengendali banjir, pemeliharaan fasilitas sisi udara dan terminal, serta pemantauan cuaca secara intensif bersama BMKG.

“Berpegang pada komitmen Melayani Sepenuh Hati, kami berharap dapat memberikan pengalaman perjalanan yang lancar, nyaman, aman, dan berkesan bagi seluruh pengguna jasa bandara,” tutup Syaugi.

Sebagai informasi, Posko Angkutan Nataru 2025/2026 di Bandara I Gusti Ngurah Rai melibatkan lebih dari 2.000 personel gabungan, terdiri dari Angkasa Pura Indonesia, AirNav Indonesia, TNI AU, Polres Bandara, maskapai, ground handling, Bea Cukai, Imigrasi, BBKK, BMKG, mitra usaha bandara, hingga desa adat setempat.