Memuat waktu...

The Last Echoes: Perayaan Musik dan Refleksi di Bambu Indah Jelang Keheningan Nyepi

Balihariini • Monday, 09 March 2026 | 21:36 WITA • Lifestyle, Wisata • 👁 54 dibaca
The Last Echoes: Perayaan Musik dan Refleksi di Bambu Indah Jelang Keheningan Nyepi
Suasana reflektif The Last Echoes di Bambu Indah Ubud menjadi momen unik sebelum Bali memasuki Hari Raya Nyepi _ Bhi-ist

BALIHARIINI.COM—Menjelang datangnya Hari Raya Nyepi, sebuah pengalaman unik berlangsung di lembah hijau Sayan, Ubud. Sekitar 200 tamu dari berbagai negara berkumpul dalam sebuah pertemuan intim bertajuk The Last Echoes, sebuah acara yang memadukan musik, relaksasi, alam, dan refleksi menjelang keheningan sakral di Bali.

Acara yang berlangsung pada 7 Maret 2026 itu digelar di Bambu Indah, sebuah resor yang dikenal dengan konsep keberlanjutan dan desain yang menyatu dengan alam.

The Last Echoes dirancang sebagai momen transisi—dari aktivitas menuju keheningan total yang menandai pergantian Tahun Baru Saka melalui perayaan Nyepi.

Pada hari suci tersebut, seluruh Pulau Bali berhenti beraktivitas selama 24 jam. Tidak ada perjalanan, cahaya, atau hiburan. Tradisi ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi dan pembaruan diri.

Corporate Director of Marketing Bambu Indah, Green Village Bali, dan The Kul Kul Farm, Citra Suriah, mengatakan acara ini sengaja dirancang sebagai pengalaman reflektif sebelum Bali memasuki keheningan.

“The Last Echoes menghadirkan ruang bagi para tamu untuk berhenti sejenak, menikmati kebersamaan, dan benar-benar merasakan malam terakhir sebelum pulau ini memasuki keheningan Nyepi,” ujar Citra.

Sejak sore hari, para tamu mulai berdatangan dan menikmati berbagai fasilitas relaksasi yang disiapkan oleh resor. Suasana alam lembah sungai yang tenang berpadu dengan fasilitas seperti sauna, ice bath, hingga copper hot tub dan kolam mata air alami.

Pengalaman tersebut semakin lengkap dengan sajian kuliner ringan dan minuman yang tersedia di berbagai area resor. Lanskap suara ambient juga disiapkan untuk mendukung suasana refleksi pribadi bagi para tamu.

Bambu Indah sendiri memiliki reputasi internasional sebagai resor yang menggabungkan arsitektur bambu inovatif dengan rumah antik Jawa yang telah direstorasi. Tempat ini didirikan oleh pasangan desainer John Hardy dan Cynthia Hardy, yang mengembangkan kawasan tersebut sebagai ruang hidup yang menghormati alam.

Selama bertahun-tahun, Bambu Indah mendapat pengakuan global dari berbagai media internasional seperti BBC Travel, Condé Nast Traveler, Travel + Leisure, hingga National Geographic.

Memasuki malam, acara berlanjut dengan rangkaian pertunjukan musik yang menghadirkan suasana meditatif. Pembukaan dibawakan oleh musisi multi-instrumentalis Agustian dari Sumatra yang memadukan instrumen tradisional dengan lantunan chant.

Penampilan berikutnya menghadirkan kolaborasi Sophie Sofree dan Raio yang memadukan unsur elektronik dengan instrumen live. Kombinasi tersebut menciptakan ritme lembut yang mengajak para tamu untuk hadir sepenuhnya dalam pengalaman malam tersebut.

Sementara itu, penampilan penutup dibawakan oleh Onanya yang memadukan pengaruh musik Afrika dan Timur Tengah. Pertunjukan ini membawa para tamu dalam perjalanan musikal yang intim dan mendalam.

Puncak acara berlangsung saat para tamu dipandu menuju area Island di Bambu Indah untuk mengikuti upacara api terakhir yang dipimpin oleh Anna Maria. Ritual tersebut menjadi simbol transisi menuju keheningan Nyepi.

Dalam suasana malam yang damai, cahaya api, musik, dan refleksi menciptakan pengalaman yang menyatukan para tamu dari berbagai negara dalam kebersamaan yang tenang. (BHI01)