Menembus Horizon dan World Solo Ride, Kisah Panjang Tokoh Pariwisata Ida Bagus Ngurah Wijaya

BALIHARIINI.COM—Perjalanan panjang Ida Bagus Ngurah Wijaya di dunia pariwisata Bali hingga petualangannya menjelajahi berbagai negara kini terangkum dalam dua buku. Tokoh pariwisata Bali yang juga dikenal sebagai generasi kedua pengelola Segara Village Hotel itu menuangkan kisah hidupnya melalui Menembus Horizon dan World Solo Ride.
Dua buku tersebut tidak sekadar merekam perjalanan karier dan kehidupan pribadi. Keduanya juga menggambarkan kiprah Ngurah Wijaya dalam membangun pariwisata Bali, pengalaman memimpin organisasi industri, hingga keberaniannya menjelajah Indonesia dan dunia seorang diri menggunakan sepeda motor.
Ngurah Wijaya tumbuh dalam keluarga yang memiliki keterikatan kuat dengan perkembangan pariwisata Sanur. Sebagai generasi kedua pengelola Segara Village Hotel, ia kemudian memperkuat kapasitasnya melalui pendidikan dan pengalaman internasional di Prancis serta Swiss.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam mengembangkan bisnis perhotelan dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan kekeluargaan Bali.
Kariernya di sektor pariwisata kemudian berkembang ke ranah organisasi. Ia menjadi Chairman Bali Tourism Board (BTB) sejak organisasi tersebut berdiri.
Melalui BTB, Ngurah Wijaya mendorong keterlibatan pemerintah, pelaku usaha pariwisata, masyarakat, dan media untuk memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata internasional.
Perannya semakin menonjol ketika Bali menghadapi dampak Bom Bali I dan II. Saat kepercayaan wisatawan mancanegara terhadap Bali menurun, ia aktif membangun komunikasi dengan media nasional dan internasional untuk menyampaikan pesan bahwa Bali mampu bangkit dari krisis.
Kiprahnya yang intens berkomunikasi dengan media membuat Ngurah Wijaya dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki kedekatan kuat dengan media dalam mempromosikan sekaligus memulihkan citra pariwisata Bali.
Pengalaman puluhan tahun tersebut menjadi bagian utama buku Menembus Horizon. Buku ini memiliki pendekatan berbeda karena tidak hanya mengandalkan penuturan Ngurah Wijaya sebagai tokoh utama.
Cerita dalam buku diperkuat kesaksian sejumlah tokoh yang pernah berinteraksi dan bekerja sama dengannya sepanjang perjalanan karier.
Proses pengumpulan testimoni tersebut bahkan menjadi salah satu bagian tersulit dalam penyusunan buku.
“Salah satu yang paling lama itu mencari testimoninya. Banyak teman saya yang harus didatangi lagi,” kata Ngurah Wijaya.
Puluhan orang memberikan kesaksian untuk buku tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, termasuk pejabat dan pelaku industri pariwisata yang pernah bersinggungan langsung dengan perjalanan kariernya.
Ngurah Wijaya menyebut tidak seluruh orang yang pernah dikenalnya dimasukkan ke dalam buku.
“Cukup banyak, mungkin sekitar puluhan orang. Tidak semua, tetapi mereka yang benar-benar memberikan dampak langsung dalam perjalanan hidup saya, seperti Menteri Pariwisata, Direktur Jenderal Pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata, dan tokoh-tokoh lainnya,” ujarnya.
Dokumentasi perjalanan hidupnya juga diperkuat dengan arsip wawancara dan rekaman video yang kemudian diolah menjadi bagian dari naskah buku.
Menurut Ngurah Wijaya, pendekatan testimoni menjadi pembeda Menembus Horizon dari autobiografi pada umumnya.
“Yang membedakan buku ini adalah banyaknya testimoni. Apa yang saya ceritakan memiliki fakta dan saksi. Jadi bukan sekadar cerita saya sendiri,” tuturnya.
Buku tersebut membawa pembaca mengikuti perjalanan Ngurah Wijaya sejak masa sekolah, pendidikan di luar negeri, pengelolaan Segara Village Hotel, keterlibatannya dalam organisasi pariwisata, hingga kiprahnya sebagai Konsul Kehormatan.
Menariknya, babak baru kehidupan Ngurah Wijaya justru dimulai setelah ia menyelesaikan aktivitas profesionalnya pada 2016.
Setelah meninggalkan sejumlah asosiasi yang pernah dibangunnya, ia mulai mencari pengalaman baru. Salah satu gagasan awalnya adalah mengelilingi Indonesia menggunakan kapal layar.
Namun, rencana tersebut urung dilakukan karena ia kesulitan menemukan rekan yang bersedia menjalani perjalanan laut dalam waktu panjang.
“Saya akhirnya menyimpulkan orang Bali tidak terbiasa berada di laut berhari-hari. Berbeda dengan masyarakat Bugis, Jawa, atau Madura yang bisa berbulan-bulan hidup di laut,” katanya.
Ia kemudian mengubah rencana perjalanan tersebut. Sepeda motor menjadi pilihan untuk menjelajahi Indonesia.
Selama hampir dua tahun, Ngurah Wijaya menyusuri berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan hingga kawasan Indonesia timur. Sejumlah wilayah belum sempat dituntaskannya karena kendala jadwal kapal, termasuk Ambon dan Papua.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi buku kedua, World Solo Ride.
Berbeda dengan Menembus Horizon, buku World Solo Ride lebih banyak mengangkat sisi petualangan Ngurah Wijaya sebagai pengendara sepeda motor.
Ia membawa sepeda motor dengan pelat nomor DK dan bendera Merah Putih dalam perjalanan lintas negara. Petualangan itu menjadi cara lain bagi dirinya untuk memperkenalkan identitas Bali dan Indonesia ketika berada di berbagai belahan dunia.
Setelah sebelumnya menjelajahi Indonesia pada usia 69 tahun, Ngurah Wijaya melanjutkan perjalanan internasional ketika berusia 73 tahun.
Rute petualangannya mencakup sejumlah negara, antara lain Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kirgistan dan Tiongkok. Ia juga menjajal berbagai medan ekstrem, termasuk kawasan gurun Namibia serta jalan-jalan di Norwegia.
Perjalanan tersebut bukan semata tentang menambah daftar negara yang dikunjungi. Bagi Ngurah Wijaya, perjalanan solo menjadi pengalaman untuk menghadapi tantangan, beradaptasi dengan lingkungan baru dan terus mengembangkan diri.
Dua buku itu akhirnya menjadi dua sisi dari perjalanan yang sama.
Menembus Horizon merekam perjalanan Ngurah Wijaya sebagai profesional dan tokoh pariwisata Bali, sementara World Solo Ride menunjukkan sisi lain kehidupannya sebagai seorang petualang.
Keduanya sekaligus menjadi catatan perjalanan seorang tokoh yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah perkembangan pariwisata Bali, sebelum kemudian memilih menembus batas melalui perjalanan lintas Indonesia dan dunia.
Di usia yang tidak lagi muda, Ngurah Wijaya justru memperlihatkan bahwa pensiun tidak selalu berarti berhenti. Baginya, satu perjalanan yang selesai dapat menjadi pintu untuk memulai perjalanan berikutnya.(BHI01)