Memuat waktu...

69 Arak’s Day di Kuta, Merayakan Harmoni Arak Bali dan Kuliner Tradisional

Balihariini • Friday, 30 January 2026 | 10:12 WITA • Wisata • 👁 77 dibaca
69 Arak’s Day di Kuta, Merayakan Harmoni Arak Bali dan Kuliner Tradisional
Suasana 69 Arak’s Day di 69 Bar & Resto Kuta yang memadukan arak Bali dengan sajian kuliner tradisional _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Perayaan Hari Arak Bali yang jatuh setiap 29 Januari menjadi momentum penting bagi pelaku pariwisata dan kuliner untuk kembali mengangkat identitas budaya Bali.

Tahun ini, 69 (Sixty-Nine) Bar & Resto di Grand Istana Rama Hotel, Kuta, merayakannya melalui sebuah kolaborasi kuliner bertajuk 69 Arak’s Day, yang menghadirkan harmoni antara arak Bali dan sajian tradisional khas Pulau Dewata.

Menggandeng Chef Yudhistira Hartanto, dari Dean Hart’s BBQ, acara ini menyuguhkan pengalaman food pairing yang berangkat dari kebiasaan masyarakat dan para chef Bali dalam menikmati arak.

Arak tidak sekadar diposisikan sebagai minuman tradisional, melainkan sebagai bagian utuh dari budaya kuliner yang memiliki cerita, filosofi, dan cara menikmatinya sendiri.

“Para chef di Bali biasanya menikmati arak dengan makanan bercita rasa pedas. Dari situ kami mengeksplorasi menu yang paling pas, dan Beef Pelalah menjadi salah satu pilihan utama,” ujar Chef Yudhistira.

Tak hanya itu, konsep barbeque juga dihadirkan dengan pendekatan yang berbeda. Teknik grill bambu dipilih untuk mempertahankan nuansa tradisional, sekaligus memperkaya aroma dan rasa. Salah satu menu unggulan adalah Timbungan, masakan khas Bali yang dimasak di dalam bambu dengan bumbu tradisional dan teknik turun-temurun.

Chef Yudhistira menegaskan, kolaborasi ini tidak bertujuan mengubah karakter asli kuliner Bali. Justru sebaliknya, menu disusun dengan tetap menjaga keaslian rasa dan filosofi setiap hidangan.

“Seluruh menu merupakan hasil pemahaman mendalam tim dapur Hotel Grand Istana Rama terhadap teknik memasak dan bumbu Bali. Kami hanya memadukan konsep tanpa menghilangkan jati diri rasa,” jelasnya.

Sebagai pelengkap, tamu juga disuguhkan Sate Lilit Bali, sayur plecing, serta kuah balung, yang memperkaya pengalaman bersantap dan memberikan gambaran utuh tentang kekayaan kuliner tradisional Bali.

Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di dunia barbeque dan butchery, serta torehan prestasi lima kali juara di tingkat nasional dan Asia, Chef Yudhistira berharap perayaan Arak Day ke depan dapat digelar lebih besar dan melibatkan lebih banyak unsur budaya Bali.

“Next year harapannya akan jauh lebih pecah lagi. Ini masih perjalanan, pertama kali coba,” katanya.

General Manager Grand Istana Rama Hotel, I Ketut Darmayasa, hadir di sela perayaan 69 Arak’s Day sebagai bentuk dukungan pelestarian arak Bali _ bhi-01
General Manager Grand Istana Rama Hotel, I Ketut Darmayasa, hadir di sela perayaan 69 Arak’s Day sebagai bentuk dukungan pelestarian arak Bali _ bhi-01

Dukungan penuh juga datang dari General Manager Grand Istana Rama Hotel, I Ketut Darmayasa. Menurutnya, Hari Arak Bali merupakan upaya penting untuk membudidayakan dan memuliakan arak secara bertanggung jawab.

“Arak bukan sekadar minuman tradisional, tetapi identitas budaya Bali yang perlu dijaga dan dihargai,” ujarnya.

Darmayasa yang juga menjabat Ketua DPP Indonesian Food and Beverage Executive Association (IFBEC) Nasional menilai, konsep food pairing menjadi cara efektif untuk mempopulerkan kuliner lokal sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap produk dalam negeri.

“Salah satu menu yang dihadirkan adalah timbungan khas Bali yang dipasangkan dengan minuman arak,” katanya.

Ia menambahkan, arak Bali berkualitas seharusnya berbahan dasar nira alami, seperti nira kelapa dan nira lontar, yang melimpah di Bali. Dengan begitu, arak tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendukung keberlanjutan petani lokal dan penguatan ekonomi daerah.

Apalagi, arak Bali telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia melalui SK Kemendikbudristek Nomor 414/P/2022 dan diperkuat Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020. Melalui perayaan seperti 69 Arak’s Day, identitas budaya Bali diharapkan semakin dikenal, diapresiasi, dan dinikmati secara bertanggung jawab oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.