Alaya Resort Ubud Gelar Piodalan Agung, Wujud Syukur dan Komitmen Lestarikan Budaya Bali

UBUD, BALIHARIINI.COM—Alaya Resort Ubud kembali menggelar upacara Piodalan Agung pada Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum bagi manajemen dan karyawan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memperkuat komitmen menjaga harmoni budaya Bali.
Rangkaian upacara yang dipusatkan di area Padmasana Alaya Resort Ubud tersebut berlangsung dengan melibatkan keluarga besar Alaya, undangan, serta sejumlah tamu yang tengah menginap di properti Alaya.
Pelaksanaan Piodalan menjadi bagian dari upaya Alaya Resort Ubud menerapkan filosofi Tri Hita Karana, khususnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Rangkaian prosesi telah dimulai sejak 5 Oktober 2026 melalui ritual Nunas Tirta atau memohon air suci di sejumlah pura di kawasan Padang Tegal dan Ubud, di antaranya Pura Desa dan Puseh, Pura Melanting, serta Pura Gunung Lebah.
Sehari sebelum puncak upacara, pada 6 Oktober, karyawan dari berbagai departemen juga terlibat dalam sejumlah kegiatan persiapan. Masing-masing departemen bertindak sebagai Pengempon, yakni kelompok yang bertanggung jawab menjaga dan merawat pelinggih di lingkungan resort.
Terdapat sembilan pelinggih di kawasan Parahyangan Alaya Resort Ubud. Setiap pelinggih memiliki kelompok Pengempon yang beranggotakan perwakilan karyawan.
Kegiatan diawali dengan Mereresik, yakni membersihkan sekaligus mempersiapkan area pelinggih. Karyawan kemudian mengikuti lomba Mayasan Pelinggih dengan menata dan menghias pelinggih serta palangkiran menggunakan wastra dan ornamen tradisional Bali.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam lomba merangkai Gebogan yang memanfaatkan buah-buahan lokal dan bahan alami. Selain menjadi bagian dari persiapan upacara, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi karyawan untuk mengenal sekaligus menjaga tradisi Bali.
Pada puncak Piodalan, prosesi diawali dengan Mecaru sebagai bagian dari ritual pembersihan dan penyelarasan. Persembahyangan bersama kemudian berlangsung pada sore hari di Padmasana.
Manajemen dan karyawan Alaya Resort Ubud mengikuti prosesi dengan mengenakan pakaian adat Bali. Suasana semakin sakral dengan persembahan Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh para karyawan.
Tari sakral tersebut menjadi simbol kebersamaan, keharmonisan, dan ketulusan dalam rangkaian persembahyangan umat Hindu.
Chief Operating Officer Alaya Hotels & Resorts, Dewi Mas, mengatakan Piodalan tahun ini menjadi ungkapan syukur atas rezeki yang diterima Alaya setelah melewati masa pemulihan akibat pandemi Covid-19.
“Piodalan merupakan momen berharga bagi seluruh tim kami untuk sejenak berhenti dari rutinitas, mengucap syukur, dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali,” ujar Dewi Mas.
Dewi menjelaskan, komitmen Alaya terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar juga diwujudkan melalui keputusan pengelolaan lahan yang tetap mempertahankan keberadaan sawah.
Menurutnya, lahan yang sebelumnya dipertimbangkan untuk pembangunan hotel justru dikelola dengan mempertahankan fungsi persawahan. Alaya juga memilih mengembangkan Alaya Ground sebagai ruang yang memberikan nilai tambah, termasuk melalui pengalaman kuliner, ketimbang menambah jumlah kamar.
Langkah tersebut, kata Dewi, menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga hubungan dengan desa adat sekaligus memberikan kontribusi kepada komunitas lokal.
“Bagi Alaya, budaya bukan sekadar bagian dari pengalaman yang kami hadirkan kepada tamu, akan tetapi juga merupakan nilai yang hidup dalam keseharian kami,” katanya.
Ia menambahkan, Piodalan menjadi momentum untuk menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, lingkungan, dan komunitas sekitar.
“Melalui Piodalan ini, kami ingin terus menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, lingkungan, dan komunitas di sekitar kami, sekaligus memberikan ruang bagi para tamu untuk mengenal dan merasakan kehangatan budaya Bali secara lebih dekat,” ujar Dewi.
Alaya Resort Ubud juga memberikan kesempatan kepada tamu untuk menyaksikan rangkaian kegiatan budaya tersebut. Namun, keterlibatan tamu tetap ditempatkan dalam koridor penghormatan terhadap tata cara, nilai, dan konteks tradisi Bali.
Berada di kawasan Ubud yang dikenal sebagai salah satu pusat seni dan budaya Bali, Alaya Resort Ubud menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari konsep hospitality yang ditawarkan.
Resort dengan 106 kamar tersebut memadukan desain kontemporer dengan unsur seni dan budaya Bali, sekaligus mempertahankan karakter lingkungan Ubud melalui keberadaan area persawahan di sekitarnya.
Melalui pelaksanaan Piodalan secara rutin, Alaya Resort Ubud tidak hanya menjadikan tradisi sebagai bagian dari pengalaman wisata, tetapi juga berupaya menempatkan budaya sebagai nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kerja dan komunitas sekitar.(BHI-01)