Memuat waktu...

Jatiluwih A Beauty Interrupted, Pameran Solo Putu Winata Membaca Gejolak di Balik Indahnya Lanskap Sawah Terasering

Balihariini • Sunday, 25 January 2026 | 11:00 WITA • Lifestyle • 👁 69 dibaca
Jatiluwih A Beauty Interrupted, Pameran Solo Putu Winata Membaca Gejolak di Balik Indahnya Lanskap Sawah Terasering
Karya Putu Winata dalam pameran 'Jatiluwih, A Beauty Interrupted' merefleksikan konflik di balik indahnya subak Bali _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, selama ini dikenal dunia sebagai lanskap sawah terasering yang memesona dan diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Namun, keindahan itu sempat terusik oleh gejolak sosial yang muncul pada Desember 2025, ketika aksi protes warga dan petani mengguncang kawasan tersebut.

Aksi itu dipicu penutupan sejumlah usaha pariwisata yang dinilai melanggar aturan dan dianggap mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal. Barisan seng yang dipasang di tengah persawahan menjadi penanda kekecewaan sekaligus simbol konflik laten antara regulasi, industri pariwisata, dan hak hidup petani.

Situasi tersebut menjadi latar utama pameran seni rupa bertajuk “Jatiluwih, A Beauty Interrupted,” pameran tunggal karya seniman Putu ‘PW’ Winata yang digelar di Deus Ex Machina Bali. Pameran ini berlangsung mulai 24 Januari hingga 22 Februari 2026 dan menampilkan refleksi artistik atas dinamika sosial di balik citra molek Jatiluwih.

Sebanyak 42 lukisan abstrak dipamerkan, mengangkat lanskap Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Tabanan. Melalui pendekatan visual yang ekspresif, PW tidak hanya menampilkan keindahan sawah terasering, tetapi juga menyelami daya tahan, kolaborasi adat, serta ketegangan antara budaya Bali dan ekspansi pariwisata yang terus menggerus ruang hidup masyarakat.

PW memandang Jatiluwih bukan sekadar panorama. Ia melihatnya sebagai ruang hidup yang sarat nilai dan perjuangan. Dalam sejumlah karya lanskapnya, PW turut merekam peristiwa pemasangan seng yang sempat terjadi di tengah sawah, sebagai representasi visual dari keresahan sosial yang dialami petani.

“Kala itu, saya melihat mengapa terjadi aksi ini. Aksi yang mengakibatkan turunnya kunjungan wisatawan itu menyingkapkan konflik tersembunyi antara regulasi, industri pariwisata, dan hak hidup petani di situs Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut,” tuturnya.

Proses kreatif pameran ini tidak berlangsung singkat. Sejak 2024, PW melakukan riset lapangan intens dengan mengamati lanskap alam, ritual sakral, serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat subak Jatiluwih. Dari proses tersebut, ia menghasilkan lebih dari seratus karya, yang sebagian telah dipamerkan di berbagai kota, baik di dalam maupun luar negeri.

Lukisan abstrak Putu Winata menggambarkan gejolak sosial di kawasan subak Jatiluwih, Tabanan/ bhi-01

Pameran ini dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo. Selain lukisan dengan beragam ukuran, pameran turut menghadirkan sebuah instalasi seng yang merefleksikan aksi protes petani Jatiluwih. Karya-karya tersebut memadukan kepadatan visual dan ruang kosong sebagai metafora atas ketegangan sosial dan ekonomi yang membayangi kawasan warisan budaya itu.

Menurut PW, pemilihan Jatiluwih sebagai tema tidak lepas dari statusnya sebagai situs UNESCO yang masih menghadapi berbagai persoalan. “Seperti diketahui bersama kan Jatiluwih itu warisan budaya UNESCO yang ada di Bali. Jadi salah satu penyebab saya untuk mengangkat Jatiluwih dan saya melihat banyak hal-hal yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga sistem irigasi subak serta tanggung jawab bersama dalam merawat warisan budaya tersebut. Dalam pameran ini, karya-karya dibagi ke dalam tiga sudut pandang waktu pagi, siang, dan malam yang merepresentasikan siklus kehidupan Jatiluwih.

Pemilihan Deus Ex Machina Bali sebagai lokasi pameran pun bukan tanpa alasan. Ruang ini dinilai memiliki jangkauan pengunjung internasional yang luas, sehingga pesan tentang Jatiluwih dan isu di baliknya dapat menjangkau audiens global. Melalui seni, PW berharap keindahan Jatiluwih tidak hanya dikagumi, tetapi juga dipahami secara lebih utuh.