Memuat waktu...

Bali Fashion Parade 2026 Angkat Warisan Budaya ke Panggung Global Lewat Karya 35 Desainer

Balihariini • Sunday, 31 May 2026 | 18:38 WITA • Lifestyle, News • 👁 69 dibaca
Bali Fashion Parade 2026 Angkat Warisan Budaya ke Panggung Global Lewat Karya 35 Desainer
Bali Fashion Parade 2026 menampilkan karya desainer yang memadukan warisan budaya Bali dan fashion modern _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Bali kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu pusat kreativitas nasional yang mampu menjembatani budaya, industri kreatif, dan perkembangan fashion modern. Melalui tema “Living Legacy”, Bali Fashion Parade (BFP) 2026 menghadirkan lebih dari sekadar peragaan busana. Ajang ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan desainer, pelaku UMKM, artisan lokal, hingga pegiat industri kreatif dalam semangat menjaga warisan budaya sekaligus mendorong praktik fashion berkelanjutan.

Diselenggarakan di Bali Sunset Road Convention Center (BSCC), Sabtu (30/5), Bali Fashion Parade yang memasuki tahun kelima penyelenggaraannya itu melibatkan sekitar 35 desainer dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah brand internasional. Tak kurang dari 150 model dari kategori anak-anak, remaja, hingga profesional turut meramaikan panggung yang menjadi salah satu agenda fashion terbesar di Pulau Dewata tersebut.

Founder sekaligus Creative Director YMM Event Organizer, Yongki Perdana, menegaskan Bali Fashion Parade bukanlah ajang kompetisi, melainkan wadah bagi para desainer untuk menampilkan karya terbaik yang telah melalui proses kurasi sesuai tema yang diusung.

“Tahun ini kami mengangkat tema Living Legacy, yang menggambarkan bahwa warisan budaya harus terus hidup dan berkembang. Bali memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang luar biasa, dan kami mengajak para desainer untuk menjaga sekaligus mengembangkannya dalam industri fashion modern,” kata Yongki.

Tema tersebut tercermin dalam berbagai koleksi yang ditampilkan. Para desainer mengangkat unsur budaya Indonesia dengan pendekatan yang lebih kontemporer. Kekayaan tekstil tradisional Bali seperti kain endek, geringsing, hingga berbagai tenun Nusantara hadir dalam bentuk rancangan yang lebih adaptif terhadap perkembangan tren fashion global.

Bagi Yongki, dampak Bali Fashion Parade tidak berhenti pada dunia mode. Kehadiran acara ini juga menjadi penggerak ekonomi kreatif yang melibatkan banyak sektor pendukung.

“Tujuan kami bukan hanya mengembangkan industri fashion, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan membangun ekosistem pertumbuhan ekonomi. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku fashion, tetapi juga sektor pariwisata dan industri kreatif lainnya,” ujarnya.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari visi jangka panjang untuk memperkuat identitas Bali sebagai destinasi fashion berbasis budaya yang mampu bersaing di pasar internasional.

“Bali Fashion Parade ingin membawa Bali lebih dikenal di dunia fashion internasional. Visi kami adalah menjadikan Bali sebagai fashion island yang mampu bersaing di tingkat global, sehingga Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat fashion berbasis budaya,” tambahnya.

Deretan nama desainer nasional dan internasional turut meramaikan panggung Bali Fashion Parade 2026. Beberapa di antaranya adalah Dana Maulana dari Danjyo Hiyoji, Ririn Yaxley, Erika Pena, Flirt, Adith, hingga Basundhari Hardy. Ajang ini juga membuka ruang bagi desainer binaan Dekranasda Provinsi Bali seperti Taksu, Body & Mind, De’luxe, Lusi Damai, Ipong Design, dan Kembang Sari.

Salah satu peserta yang kembali tampil adalah Anak Agung Istri Agung Kresna Vindhari, pendiri label Basundhari Hardy. Tahun ini menjadi penampilan ketiganya dalam Bali Fashion Parade.

Melalui koleksinya, ia memadukan nuansa etnik Bali dengan sentuhan modern melalui penggunaan batu-batuan dekoratif dan detail payet. Untuk segmen anak-anak, ia mengangkat tema “Srikandi” yang menggambarkan sosok perempuan muda yang tangguh namun tetap anggun. Sementara pada sesi grand show, ia memperkenalkan koleksi “Rupa Raga” yang terinspirasi dari karakter bangsawan keraton dengan pendekatan kasual dan glamor.

“Di Bali Fashion Parade kami tetap berkarya tanpa meninggalkan budaya. Unsur etnik tetap menjadi identitas utama, namun dikemas lebih modern sehingga bisa diterima pasar yang lebih luas,” ujar Vindhari.

Ia menilai peluang fashion Bali untuk menembus pasar global semakin terbuka berkat kekayaan wastra Nusantara yang dimiliki Indonesia.

“Bali memiliki potensi besar. Dengan kekayaan tenun dan budaya yang kita miliki, Bali bisa dikenal bukan hanya karena pariwisatanya, tetapi juga karena fashionnya,” katanya.

Optimisme serupa datang dari desainer Debby Fauziyanto, pendiri Debz Official. Dalam kesempatan tersebut, ia menampilkan 15 koleksi ready-to-wear bergaya avant-garde yang memadukan batik Yogyakarta dan Solo dengan material modern seperti semi-wool.

Menurut Debby, perpaduan antara warisan tekstil Nusantara dan eksplorasi desain kontemporer menjadi kekuatan utama fashion Indonesia saat ini.

“Koleksi yang saya tampilkan merupakan perpaduan wastra Nusantara dengan pendekatan desain yang lebih edgy dan kontemporer. Harapannya, masyarakat Bali semakin mengenal karya desainer lokal Indonesia yang mampu bersaing dengan brand luar negeri,” ujarnya.

Tak hanya menghadirkan fashion show, Bali Fashion Parade 2026 juga diramaikan pameran UMKM, creative market, pertunjukan seni, hingga penampilan spesial penyanyi nasional Santhi yang memperkuat atmosfer kreatif sepanjang acara.

Melalui tema besar Living Legacy, Bali Fashion Parade 2026 ingin menegaskan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Budaya merupakan identitas yang terus hidup, berkembang, dan menemukan bentuk baru melalui kreativitas generasi masa kini.

Dengan mengedepankan prinsip sustainable fashion, penggunaan material yang lebih bertanggung jawab, serta kolaborasi bersama UMKM dan artisan lokal, ajang ini menjadi bukti bahwa industri fashion dapat tumbuh tanpa meninggalkan akar budaya. Di saat yang sama, Bali semakin memperkuat langkahnya menuju panggung internasional sebagai destinasi fashion yang berakar kuat pada warisan budaya Nusantara.(BHI-01)