Memuat waktu...

Bali Fashion Trend 2025: Ajang Brand Lokal Menuju Masa Depan Fesyen Indonesia Tembus Industri Mode Global

Balihariini • Sunday, 21 December 2025 | 19:13 WITA • Lifestyle • 👁 163 dibaca
Bali Fashion Trend 2025: Ajang Brand Lokal Menuju Masa Depan Fesyen Indonesia Tembus Industri Mode Global
Para model melangkah percaya diri di runway Bali Fashion Trend 2025, memperagakan karya busana yang memadukan budaya Nusantara dan sentuhan modern _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Bali Fashion Trend 2025 kembali menegaskan posisinya sebagai etalase penting perkembangan fesyen Indonesia. Ajang tahunan ini bukan sekadar peragaan busana, melainkan ruang strategis bagi brand lokal untuk menunjukkan identitas, kreativitas, dan kesiapan bersaing di industri mode nasional hingga global.

Tahun ini, Bali Fashion Trend 2025 menghadirkan panggung khusus bagi 12 jenama hasil Program Inkubasi Fesyen 2025 yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf). Para brand tersebut berasal dari Bali dan wilayah Jabodetabek, setelah melewati proses pelatihan, pendampingan intensif, hingga kurasi ketat sebelum tampil di runway.

Perpaduan seni, inovasi, dan nilai budaya terasa kuat sepanjang perhelatan. Koleksi yang ditampilkan tidak hanya mengikuti arah tren fesyen masa depan, tetapi juga menjadi medium edukasi budaya yang dikemas secara modern. Para model tampil percaya diri, menghidupkan setiap rancangan dengan gestur elegan yang mempertegas karakter busana.

Sorotan utama hadir pada hari ketiga penyelenggaraan, saat 12 brand inkubasi resmi memamerkan karya terbaik mereka. Direktur Fesyen Kemenekraf/Bekraf, Romi Astuti, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai jalan naik kelas bagi pelaku fesyen lokal.

Melalui program Inkubasi Fesyen 2025 ini, kami ingin memfasilitasi brand lokal agar dapat naik kelas melalui penguatan desain, konsep bisnis, serta daya saing industrinya,” ujar Romi Astuti dalam acara tersebut, Sabtu, 20 Desember 2025.

Kedua belas brand yang tampil antara lain Ceu Kokom Ecoprint, Ghaea Home, Da’poza, Opie Ovie, Suwari Loka, Srihanna, Guts Etnik, Milioki, Etiesta, Mierto, Amod Bali, Batik Marunda, serta Deden Siswanto untuk MYMD. Mereka hadir sebagai representasi kekuatan kreatif desainer Indonesia yang mengolah kekayaan budaya Nusantara ke dalam pendekatan desain kontemporer.

Mereka hadir sebagai representasi kekuatan kreatif desainer lokal yang mengusung karakter budaya Nusantara dalam pendekatan desain kontemporer,” lanjut Romi dengan penuh semangat.

Program Inkubasi Fesyen 2025 sendiri difokuskan pada penguatan menyeluruh, mulai dari strategi bisnis, pengembangan konsep koleksi, teknik penyajian mode, hingga storytelling brand. Selama proses pendampingan, para peserta mendapat arahan langsung dari mentor profesional, pelaku industri, hingga pengajar fesyen berpengalaman.

Identitas unik menjadi benang merah dari setiap koleksi yang tampil di runway. Mulai dari eksplorasi material tekstil lokal, pemahaman tren global, kesiapan fashion show dan pemotretan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam penguatan branding.

“Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam mendorong jenama lokal agar mampu berkembang secara kreatif dan kompetitif di industri fesyen tanah air dan pasar global,” tegas Romi Astuti.

Sebagai platform mode tahunan yang konsisten mengangkat budaya dan kreativitas lokal, Bali Fashion Trend 2025 diharapkan menjadi pintu awal bagi brand inkubasi untuk memperluas jangkauan pasar, memperkuat jejaring industri, serta membangun karakter merek melalui eksposur media.

“Kami percaya, bahwa jenama yang tampil hari ini membawa potensi besar bagi masa depan industri kreatif Indonesia,” ungkap Romi.

Dengan tampilnya 12 jenama hasil Inkubasi Fesyen 2025, Bali Fashion Trend tahun ini menjadi bukti nyata bahwa talenta fesyen Indonesia memiliki kualitas, karakter, dan daya saing untuk melangkah lebih jauh di panggung dunia.