Memuat waktu...

Antara Sampah, Wisatawan, dan Sistem: Sebuah Tantangan Menjaga Pantai Bali Tetap Bersih

Balihariini • Saturday, 07 February 2026 | 13:40 WITA • News • 👁 168 dibaca
Antara Sampah, Wisatawan, dan Sistem: Sebuah Tantangan Menjaga Pantai Bali Tetap Bersih
Darmayasa Barak, Praktisi Industri Pariwisata, menyoroti pentingnya sistem berkelanjutan agar pantai Bali tidak hanya dibersihkan, tetapi benar-benar terjaga _ bhi-ist

BALIHARIINI.COM—Instruksi Presiden RI untuk melakukan aksi bersih-bersih pantai di Bali menjadi sinyal kuat komitmen negara dalam menjaga lingkungan, khususnya kawasan pariwisata strategis nasional. Pada hari pertama pelaksanaan, seluruh pemangku kepentingan bergerak serempak. Pemerintah daerah, TNI-Polri, pelaku industri pariwisata, asosiasi, hingga masyarakat turun langsung ke pantai-pantai di Bali Selatan.

Hasilnya tampak instan. Sampah plastik, kayu, botol, hingga limbah aktivitas manusia diangkut dari pesisir. Media mencatat aksi tersebut sebagai keberhasilan cepat. Wisatawan yang berada di lokasi pun menyambutnya dengan tepuk tangan. Foto-foto pantai bersih menyebar luas dengan satu narasi dominan: Bali kembali bersih.

Namun, realitas alam tidak selalu berjalan seirama dengan narasi.

“Laut tidak membaca berita, angin tidak ikut apel, dan plastik tidak mengenal instruksi negara,” ujar Darmayasa Barak, Praktisi Industri Pariwisata, saat ditemui di Kuta, Jumat, 7 Februari 2026.

Beberapa hari setelah aksi berlangsung, ombak kembali membawa kiriman sampah ke pesisir. Pantai yang sebelumnya bersih kembali dipenuhi limbah, kali ini tanpa kamera, tanpa komando, dan tanpa seremoni. Fenomena ini memunculkan pertanyaan sederhana dari seorang wisatawan asing, “Why is the beach always cleaned, but never clean?”.

Menurut Darmayasa, pertanyaan itu merupakan kritik mendasar terhadap pola penanganan sampah di Bali yang selama ini masih bersifat reaktif. “Yang kita lakukan sering kali baru menghapus gejala, bukan menyelesaikan akar masalah,” katanya.

Ia menilai, instruksi Presiden seharusnya dibaca sebagai pesan strategis, bukan sekadar perintah aksi simbolik. “Pengelolaan sampah di Bali harus ditempatkan sebagai agenda super prioritas, dibangun melalui sistem yang kuat, berkelanjutan, dan punya arah jelas,” ujarnya.

Darmayasa menekankan pentingnya menjaga Bali tetap BALI: Bersih, Aman, Lestari, dan Indah, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk jangka panjang.

Sebagai respons atas persoalan tersebut, ia memperkenalkan pendekatan I-BESTIE, sebuah model berpikir yang mengintegrasikan Budaya, Edukasi Lingkungan, Sirkular Ekonomi, Teknologi, Institusionalisasi, dan Eliminasi limbah dari hulu.

“Pantai bukan halaman belakang ekonomi. Ia ruang hidup yang harus dijaga dengan rasa tanggung jawab, bahkan rasa malu jika kita mengotorinya,” kata Darmayasa.

Ia menjelaskan, edukasi lingkungan perlu hadir secara halus dan konsisten, mulai dari warung pantai, menu hotel, hingga narasi yang disampaikan para pekerja pariwisata. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memahami tanggung jawab menjaga lingkungan.

Dalam konsep sirkular ekonomi, sampah tidak dibiarkan menjadi beban. Setiap botol plastik, kaleng, atau kayu memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Teknologi pun berperan sebagai sistem peringatan dini sebelum sampah menumpuk, bukan setelah pantai menjadi tajuk berita.

Sementara itu, institusionalisasi memastikan setiap pantai memiliki pengampu yang bekerja setiap hari, bukan hanya saat ada instruksi. “Pantai tidak pernah salah. Ia hanya menerima apa yang kita kirimkan,” tegas Darmayasa.

Ia menilai momentum ini harus menjadi titik tolak kesadaran kolektif. Pengelolaan pantai tidak bisa dibebankan pada satu pihak, satu hari, atau satu seremoni. Diperlukan kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, dan wisatawan.

“Pantai Bali yang benar-benar indah bukan pantai yang sering dibersihkan, tetapi pantai yang tidak pernah dikotori—karena dijaga bersama,” pungkasnya.