Minggu, 13 September 2026 05:10:06
Minggu, 13 September 2026 05:10:06
Minggu, 13 September 2026 05:10:06

HRCON 2026 Tegaskan Manusia Tetap Jadi Kunci Transformasi Digital, HRA Bali Dorong SDM Adaptif Hadapi Era AI

BalihariiniSaturday, 15 August 2026 | 19:53 WITANews, Teknologi👁 37 dibaca
HRCON 2026 Tegaskan Manusia Tetap Jadi Kunci Transformasi Digital, HRA Bali Dorong SDM Adaptif Hadapi Era AI
HRCON 2026 menghadirkan para pakar nasional untuk membahas masa depan SDM perhotelan yang adaptif di era AI _ bhi-01

BALIHARIINI.COM—Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus mengubah lanskap dunia kerja, termasuk industri perhotelan. Namun, di tengah derasnya transformasi digital, aspek kemanusiaan dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Human Resources Convention (HRCON) 2026 yang digelar Human Resources Association (HRA) Bali di Renaissance Bali Uluwatu Resort & Spa, Sabtu (15/8/2026). Mengusung tema “Memanusiakan Masa Depan Digital, Merangkul Pola Pikir Wirausaha”, forum tahunan ini menjadi ruang diskusi bagi para praktisi SDM untuk merumuskan strategi menghadapi perubahan industri yang semakin dipengaruhi teknologi.

Memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan sejak pertama kali digelar pada 2017, HRCON 2026 diikuti lebih dari 300 profesional bidang human resources dan hospitality dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua HRA Bali, Vira Risnayani, mengatakan tema tahun ini dipilih untuk menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan manusia tetap menjadi pusat dari setiap proses transformasi organisasi.

“Sebagai manusia kita memiliki kekuatan untuk memiliki rasa, memiliki rasa, dan memiliki cara yang tidak akan tergantikan dengan AI,” ujar Vira.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi mempertanyakan kesiapan menghadapi AI, melainkan bagaimana setiap individu mampu beradaptasi sekaligus memanfaatkan teknologi secara tepat. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga rasa ingin tahu dinilai menjadi kompetensi yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

“Kalau kita bisa menggunakan alat AI, bukan berarti kita bisa memaknai. Kemampuan untuk bisa memaknai AI itu adalah kemampuan utama,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Senior Global Advisor ESQ Group, Rina Sarif. Dalam sesi “From Identity to Impact: Winning the AI Era Through Purpose & Human Potential”, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi akan terus berlangsung, tetapi nilai-nilai kemanusiaan harus tetap menjadi kompas organisasi.

“AI itu adalah alat. Setelah AI, nanti akan ada agen AI. Selepas agen AI, akan ada teknologi yang baru. Jadi teknologi itu akan berubah. Tetapi penjelasannya masih manusia,” ujar Rina.

Ia juga mengingatkan bahwa praktisi human resources memiliki peran strategis untuk memastikan kepentingan manusia tetap menjadi bagian dari setiap keputusan bisnis di tingkat organisasi.

Sementara itu, Senior Director Human Capital Talent Culture and Transformation Danantara, Wiwik Wahyuni, menyoroti pentingnya kejelasan arah organisasi ketika menjalankan transformasi.

Menurutnya, setiap perubahan harus melibatkan karyawan sebagai bagian dari proses, sementara divisi HR bertugas memastikan seluruh program memiliki keterkaitan langsung dengan strategi bisnis perusahaan.

“HR jangan sampai melakukan suatu aktivitas yang tidak ada dasarnya dengan tujuan bisnis,” tegas Wiwik.

Ia juga mengajak komunitas HR di Bali untuk terus memperkuat kolaborasi, memperluas jejaring profesional, dan membangun budaya belajar bersama demi meningkatkan kualitas layanan industri hospitality yang menjadi wajah pariwisata Bali.

HRCON 2026 dibuka melalui opening act “Suara yang Menyalakan Masa Depan”, yang mengangkat pesan mengenai perubahan dunia kerja, tantangan pengelolaan talenta, hingga pentingnya menjaga sisi kemanusiaan di tengah percepatan teknologi.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan dalam tema besar “Lead. Innovate. Humanize.”, yang menjadi benang merah seluruh rangkaian acara dengan fokus pada pengembangan Human Capital for the Next Era of Hospitality.

Usai sesi pembuka bersama Coach Rudy dari ESQ Corporation, peserta mengikuti paparan dari Rina Sarif mengenai pentingnya identitas, purpose, karakter, dan potensi manusia sebagai fondasi menghadapi era AI.

Perspektif berbeda disampaikan Gemini Aryanto, M.Si., GPHR, Group Chief People & Culture Officer Kopi Kenangan, melalui materi “Entrepreneurial Leadership Mindset in Service Industry”. Ia mengulas pentingnya membangun kepemimpinan yang memiliki ownership, agility, keberanian mengambil keputusan, inovasi, serta business awareness agar organisasi mampu bertahan di tengah disrupsi.

Rangkaian konvensi berlanjut dengan dua panel strategis yang mempertemukan praktisi industri, akademisi, dan pelaku hospitality.

Panel pertama bertajuk “From Mindset to Workforce Readiness: Building Talent for the Next Era” menghadirkan Drs. I Wayan E. Ginastra, Dwi Sunu Widyo Pebruanto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., dengan Peggy Putri sebagai Session Host. Diskusi menyoroti pentingnya membangun talenta yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengambil ownership, memecahkan masalah, berinovasi, serta menciptakan nilai tambah bagi organisasi.

Selanjutnya, panel “Create Clarity, Reach for Impact” dipandu Bambang Yapri, M.Pd., PCC bersama Wiwik Wahyuni, Dr. Ni Made Ayu Sulasmini, S.Pd., M.Pd., CHT., CHE., CTE., dan Flavia Sungkit. Sesi ini membahas pentingnya kejelasan arah kepemimpinan melalui purpose, values, serta proses learn, unlearn, relearn yang diperkuat dengan pendekatan IKIGAI.

Setelah sesi utama dan networking, peserta mengikuti sembilan concurrent sessions yang membahas implementasi berbagai isu strategis di lingkungan kerja.

Topik yang diangkat meliputi pembangunan intrapreneurial mindset, penerapan IKIGAI dalam pengelolaan SDM, peningkatan financial wellbeing dan resiliensi karyawan, transformasi pola pikir pegawai menjadi value creator, penguatan human-centred employee experience, pengelolaan self-talk dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan melalui BRAIN Framework, hingga strategi berkolaborasi dengan AI tanpa menghilangkan potensi manusia.

Konvensi ditutup melalui sesi “Reflect Within, Impact Beyond” bersama Gus Suranata dan Jacky Mussry, yang mengajak peserta menerjemahkan seluruh pembelajaran menjadi aksi nyata bagi organisasi, industri hospitality, dan masyarakat.

Melalui rangkaian diskusi tersebut, HRCON 2026 menegaskan bahwa masa depan industri hospitality tidak hanya ditentukan oleh kecepatan mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh kemampuan organisasi membangun SDM yang memiliki purpose, kepemimpinan, daya inovasi, serta komitmen menciptakan dampak berkelanjutan.(BHI01)