Minggu, 13 September 2026 14:26:56
Minggu, 13 September 2026 14:26:56
Minggu, 13 September 2026 14:26:56

KUR BRI Bantu UMKM Bali Tingkatkan Produksi, Pembibitan Lele Semakin Berkembang

BalihariiniFriday, 31 July 2026 | 14:27 WITANews👁 20 dibaca
KUR BRI Bantu UMKM Bali Tingkatkan Produksi, Pembibitan Lele Semakin Berkembang
KUR BRI mendukung pengembangan usaha pembibitan lele di Bali melalui tambahan modal kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi _ BHI-IST

BALIHARIINI.COM—Akses permodalan menjadi salah satu fondasi utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar. Di Bali, dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi salah satu pendorong berkembangnya usaha produktif, termasuk sektor perikanan budidaya.

Salah satu kisah pertumbuhan tersebut datang dari I Nyoman Miasa (35), pelaku usaha pembibitan lele asal Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung. Berbekal modal pribadi sekitar Rp17 juta pada 2017, Miasa membangun usaha pembibitan lele Sangkuriang yang kini mampu memasok bibit ke berbagai wilayah di Pulau Dewata.

Berbeda dengan usaha pembesaran lele yang membutuhkan waktu panen lebih lama, Miasa memilih fokus pada pembibitan karena siklus produksinya lebih singkat dengan permintaan pasar yang relatif stabil. Strategi tersebut terbukti mampu mendorong perkembangan usahanya dari skala kecil menjadi pemasok bibit bagi para pembudidaya di sejumlah kabupaten.

Awalnya, pemasaran hanya menjangkau lingkungan sekitar. Namun, seiring meningkatnya kualitas bibit dan bertambahnya pelanggan, distribusi produknya kini telah meluas ke Gianyar, Klungkung, Tabanan hingga Singaraja.

Saat ini, dalam satu kali siklus produksi, Miasa mampu menghasilkan sekitar 360 ribu ekor bibit lele dengan ukuran 4 hingga 9 sentimeter. Bibit tersebut dipasarkan kepada peternak untuk dibesarkan hingga siap konsumsi.

Di balik peningkatan kapasitas produksi, usaha pembibitan lele menghadapi tantangan modal yang tidak sedikit. Selain investasi pembangunan kolam, biaya operasional terbesar berasal dari kebutuhan pakan pada fase awal pertumbuhan benih.

Benih yang baru menetas membutuhkan pakan berupa cacing sutra selama sekitar 15 hingga 20 hari sebelum beralih menggunakan pelet. Kebutuhan tersebut membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan.

Dalam satu siklus produksi, kebutuhan cacing sutra mencapai sekitar Rp88,7 juta, sedangkan biaya pembelian pelet berkisar Rp15,3 juta. Selain itu, kualitas air juga menjadi faktor penting yang harus dijaga melalui penggunaan air sumur serta penggantian air kolam secara berkala agar benih tetap sehat dan terhindar dari penyakit.

Seiring meningkatnya permintaan pasar, kebutuhan modal kerja pun terus bertambah. Kondisi tersebut mendorong Miasa memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai tambahan pembiayaan usaha.

Awalnya, ia memperoleh plafon pinjaman sebesar Rp25 juta. Sejalan dengan perkembangan usahanya, plafon pembiayaan tersebut meningkat hingga Rp100 juta.

Tambahan modal tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional, mulai dari pembelian pakan, pemeliharaan kolam, hingga menjaga kelancaran produksi agar permintaan pelanggan tetap dapat dipenuhi.

“Kebutuhan modal di usaha pembibitan memang cukup besar, terutama untuk pakan karena itu yang paling banyak menyerap biaya. Dengan adanya KUR BRI, saya lebih terbantu untuk menambah modal kerja sehingga produksi bisa terus berjalan dan permintaan pelanggan tetap bisa kami penuhi. Dari awal pinjam Rp25 juta sampai sekarang plafonnya meningkat menjadi Rp100 juta karena usaha juga terus berkembang,” ujar Miasa.

Menurutnya, dukungan pembiayaan memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus mengorbankan kualitas bibit yang dihasilkan.

Ke depan, Miasa berharap usahanya dapat terus berkembang sehingga mampu memperluas jaringan pemasaran ke lebih banyak daerah di Bali sekaligus meningkatkan volume produksi.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa KUR BRI dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan berpotensi berkembang.

Menurutnya, kemudahan akses modal menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperkuat perekonomian daerah.

“KUR BRI hadir untuk memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospektif. Kami berharap pembiayaan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperluas kesempatan usaha sehingga UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan,” kata Hery.

Ia menilai sektor perikanan budidaya merupakan salah satu sektor produktif yang memiliki prospek menjanjikan karena tidak hanya menopang rantai pasok pangan, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.

Karena itu, BRI berkomitmen terus memperluas penyaluran KUR ke sektor-sektor produktif agar semakin banyak pelaku usaha yang dapat meningkatkan skala bisnis, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“BRI akan terus mendorong penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif agar semakin banyak pelaku UMKM yang mampu meningkatkan skala usahanya, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Hery.

Melalui dukungan pembiayaan yang tepat sasaran, KUR BRI diharapkan semakin memperkuat daya tahan UMKM di berbagai sektor, termasuk budidaya perikanan, sehingga mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal.(BHI01)