Memuat waktu...

Modal KUR Rp5 Juta Bawa Rumpun Bambu Bangli Naik Kelas ke KUPRA BRI

Balihariini • Friday, 23 October 2026 | 15:55 WITA • News, Teknologi • 👁 11 dibaca
Modal KUR Rp5 Juta Bawa Rumpun Bambu Bangli Naik Kelas ke KUPRA BRI
Ni Nengah Kartini mengembangkan Rumpun Bambu Bangli dari modal KUR BRI Rp5 juta hingga melibatkan sekitar 30 pekerja lokal di Bangli _ BHI-IST

BANGLI, BALIHARIINI.COM — Modal awal Rp5 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi titik awal Ni Nengah Kartini mengembangkan Rumpun Bambu Bangli. Berawal dari usaha kerajinan keluarga, bisnis anyaman bambu tersebut kini melibatkan sekitar 30 tenaga kerja dan memasok produk dekorasi untuk vila hingga hotel di Bali.

Keterampilan menganyam sudah dipelajari Kartini sejak kecil dari kakek dan neneknya. Meski pendidikan formalnya terhenti di bangku sekolah dasar akibat keterbatasan ekonomi, ia terus mengembangkan keterampilan tersebut hingga menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Saya awalnya pinjam modal di BRI Rp5 juta. Dari modal itu usaha terus saya putar,” kata Kartini.

Rumpun Bambu Bangli kini tidak hanya memproduksi kerajinan tradisional seperti bakul dan tempat bumbu. Kartini juga mengembangkan anyaman tiga dimensi berukuran 1 x 2 meter serta produk dekorasi bernama Astra yang diminati sektor perhotelan dan vila.

Dalam sembilan bulan, produksi anyaman tiga dimensi mencapai sekitar 1.500 lembar. Salah satu pesanan bahkan mencapai sekitar 100 lembar per minggu.

Peningkatan permintaan tersebut mendorong Kartini memperluas kapasitas produksi. Jika sebelumnya usaha ini hanya melibatkan enam anggota keluarga, kini sekitar 30 orang turut mengerjakan produk anyaman tiga dimensi. Ia juga mulai mengajak warga sekitar belajar menganyam agar mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Saat pesanan berjalan, omzet usaha Kartini dapat menembus Rp15 juta per bulan. Nilai aset produknya juga disebut telah berkembang menjadi lebih dari Rp15 juta, dibandingkan modal awal sebesar Rp5 juta.

Naik kelas dari KUR ke KUPRA

Perkembangan Rumpun Bambu Bangli membawa Kartini naik kelas dari nasabah KUR menjadi nasabah KUPRA BRI. Perubahan ini menjadi bagian dari perjalanan usahanya ketika kebutuhan pembiayaan meningkat seiring bertambahnya pesanan.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan perkembangan usaha mikro perlu diikuti dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas bisnis.

Menurut dia, peningkatan kelas nasabah tidak hanya berkaitan dengan tambahan modal, tetapi juga kemampuan pelaku usaha meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan mengembangkan bisnis secara terukur.

Dukungan pembiayaan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memenuhi kebutuhan modal ketika usahanya berkembang.

Bagi Kartini, perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Saat pandemi Covid-19, pesanan dari hotel dan vila ikut terdampak. Untuk mempertahankan penghasilan, ia beralih memproduksi barang yang bisa dijual langsung kepada konsumen, seperti bakul nasi dan tempat bumbu.

Dari pesanan-pesanan kecil itu, peluang baru mulai terbuka. Kartini kemudian memperoleh permintaan melalui jaringan arsitek hingga produknya digunakan untuk dekorasi vila. Ia juga mengikuti pameran dan kegiatan yang difasilitasi pemerintah daerah untuk memperkenalkan produk Rumpun Bambu Bangli.

Jaga pasokan bahan baku dan regenerasi perajin

Di tengah pertumbuhan usaha, Kartini menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku. Bambu perlu dikeringkan sebelum dianyam sehingga persediaan harus disiapkan lebih awal, terutama menjelang musim hujan.

Untuk menjaga kelancaran produksi, ia rutin memantau ketersediaan bambu di sekitar Bangli dan melakukan pengadaan sebelum stok habis.

Kartini juga mendaftarkan hak cipta sejumlah desain yang dikembangkan sendiri, termasuk produk abstrak dan anyaman tiga dimensi. Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi karya yang menjadi ciri khas usahanya.

Selain memperluas pasar, Kartini mulai memikirkan keberlanjutan kerajinan bambu melalui regenerasi perajin. Anak-anak muda yang datang dari sekolah diajak mempelajari pembuatan kerajinan sederhana agar keterampilan menganyam tetap dikenal dan dapat menjadi alternatif pekerjaan.

Bagi Kartini, pengalaman mengembangkan Rumpun Bambu Bangli menunjukkan pentingnya kemauan belajar dan ketekunan dalam menghadapi perubahan pasar.

“Kalau orang memberi pekerjaan kepada kita, kita harus mau belajar. Jangan menyerah dan jangan putus asa,” ujar Kartini.(BHI01)