QRIS BRI Permudah Transaksi Fruit Junkies, Penjualan Jus di Denpasar Tembus 200 Cup per Hari

BALIHARIINI.COM—Transformasi digital terus mengubah cara pelaku usaha mikro menjalankan bisnisnya. Salah satu contohnya dirasakan usaha minuman sehat Fruit Junkies di Denpasar yang memanfaatkan layanan pembayaran digital QRIS BRI untuk mempermudah transaksi sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan.
Pemilik Fruit Junkies, Satrio Utomo, mengungkapkan penggunaan QRIS BRI kini menjadi salah satu metode pembayaran favorit pelanggan. Bahkan, nilai transaksi digital yang diterima setiap hari mencapai lebih dari Rp2 juta, seiring meningkatnya kebiasaan masyarakat menggunakan pembayaran non-tunai. “Kalau transaksi QRIS kurang lebih di atas Rp2 juta per hari,” kata Satrio.
Pemanfaatan QRIS dinilai memberikan dampak positif terhadap operasional usaha. Selain membuat proses pembayaran menjadi lebih cepat, seluruh dana hasil transaksi langsung masuk ke rekening sehingga memudahkan pengelolaan arus kas.
Menurut Satrio, sistem pembayaran digital juga mengurangi kebutuhan untuk datang ke bank hanya untuk menyetorkan uang hasil penjualan.
“Jauh lebih memudahkan transaksi. Saya juga tidak perlu sering ke bank untuk setor uang,” ujarnya.
Fruit Junkies bukanlah pemain baru di industri minuman sehat. Usaha yang telah berdiri sekitar 11 tahun itu awalnya dikenal sebagai penjual jus alpukat yang menggunakan pasokan buah dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seiring perkembangan usaha, pilihan menu kini semakin beragam, mulai dari jus mangga, stroberi, sirsak hingga berbagai buah musiman lainnya.
Dalam satu hari, Fruit Junkies mampu menjual sekitar 200 cup jus buah kepada pelanggan. Untuk menjaga kualitas produk, Satrio mengaku membutuhkan sekitar 40 kilogram alpukat matang setiap hari. Pasokan buah diperoleh dari Bali maupun NTT agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga sepanjang tahun.
Sementara itu, uang tunai yang diterima dari pelanggan biasanya langsung digunakan untuk membeli kebutuhan bahan baku di pasar. Adapun komposisi transaksi saat ini masih relatif seimbang antara pembayaran tunai dan digital.
Satrio memperkirakan sekitar 50 persen transaksi dilakukan secara tunai dan 50 persen melalui QRIS. Namun, pada awal bulan, penggunaan pembayaran digital cenderung lebih tinggi.
“Kalau tanggal muda biasanya lebih banyak yang pakai QRIS,” ungkapnya.
Selain mempercepat proses pembayaran, Satrio menilai layanan perbankan dari BRI memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam mengakses berbagai layanan keuangan yang dibutuhkan untuk mendukung operasional bisnis. Kalau untuk akses layanan, sangat membantu,” lanjutnya.
Digitalisasi pembayaran dinilai menjadi salah satu faktor penting yang membantu UMKM mengelola usaha secara lebih modern. Dengan pencatatan transaksi yang dilakukan secara otomatis, pelaku usaha dapat memantau pemasukan harian dengan lebih akurat tanpa harus melakukan pencatatan manual.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan QRIS BRI merupakan salah satu solusi pembayaran digital yang dirancang untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) meningkatkan daya saing di tengah perkembangan ekonomi digital.
“QRIS BRI tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi bagi konsumen, tetapi juga membantu pelaku UMKM menjalankan usaha dengan lebih efisien, aman, dan modern. Melalui satu kode QR, merchant dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan maupun dompet digital yang telah terhubung dengan QRIS, sehingga transaksi menjadi lebih praktis dan cepat,” ujar Hery.
Menurutnya, penggunaan QRIS menjadi bagian penting dalam mempercepat digitalisasi UMKM karena mampu mengurangi ketergantungan terhadap transaksi tunai, mempercepat proses pembayaran, sekaligus memberikan pengalaman bertransaksi yang lebih nyaman bagi pelanggan.
Keunggulan lain yang ditawarkan adalah seluruh transaksi tercatat secara digital sehingga memudahkan pelaku usaha melakukan monitoring keuangan, evaluasi penjualan, hingga penyusunan laporan usaha.
Hery menambahkan semakin banyak pelaku UMKM yang mulai merasakan manfaat penggunaan sistem pembayaran digital dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
“Kami melihat semakin banyak UMKM yang merasakan manfaat digitalisasi pembayaran. Dengan transaksi yang cepat, aman, dan terdokumentasi dengan baik, pelaku usaha dapat lebih fokus mengembangkan bisnis serta memberikan layanan terbaik kepada pelanggan,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi digital UMKM, BRI Region 17 Denpasar terus mendorong adopsi QRIS di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah tersebut dilakukan melalui edukasi kepada pelaku usaha, pendampingan penggunaan layanan digital, hingga kemudahan proses pendaftaran merchant QRIS.
BRI juga menghadirkan ekosistem digital melalui aplikasi BRIMerchant, yang memungkinkan pelaku usaha memantau transaksi secara real time sekaligus menerima berbagai metode pembayaran dalam satu platform.
Hery menegaskan BRI akan terus memperkuat komitmen dalam mendukung pemberdayaan UMKM melalui inovasi layanan digital yang mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperluas akses pasar, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara inklusif.
“BRI percaya UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Karena itu, kami akan terus menghadirkan solusi digital yang relevan agar pelaku UMKM semakin naik kelas, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan memiliki daya saing yang semakin kuat,” tutup Hery.(BHI01)