Memuat waktu...

BRI Perkuat UMKM Lewat Digitalisasi, Depot Betty Bertahan 25 Tahun di Tengah Persaingan

Balihariini • Friday, 17 April 2026 | 17:32 WITA • Teknologi • 👁 47 dibaca
BRI Perkuat UMKM Lewat Digitalisasi, Depot Betty Bertahan 25 Tahun di Tengah Persaingan
Depot Betty di Bedugul berkembang pesat berkat digitalisasi dan dukungan KUR BRI dalam mengelola usaha kuliner_bhi-ist

BALIHARIINI.COM—Di tengah ketatnya persaingan industri kuliner di Bali, keberhasilan Depot Betty mempertahankan eksistensinya selama 25 tahun menjadi gambaran nyata bagaimana usaha keluarga mampu bertahan melalui adaptasi dan dukungan perbankan.

Depot Betty didirikan pada 2001 oleh orang tua I Putu Bayu Ekayana di Pasar Tradisional Pancasari. Awalnya, usaha ini hanya berupa warung sederhana yang menjual babi guling dan daging mentah. Tongkat estafet bisnis kemudian beralih pada 2013 saat Bayu mengambil alih usaha keluarga di tengah kondisi kesehatan ibunya yang menurun.

“Awalnya saya bingung, karena latar belakang saya di hospitality, bukan kuliner. Saya bartender dulu, jadi sangat jauh dari dunia masak,” ujar Bayu.

Meski minim pengalaman di bidang kuliner, Bayu memilih memulai dari dasar. Ia tetap mempertahankan resep keluarga, namun memperkuat aspek pelayanan, kebersihan, dan standar higienitas yang kerap diabaikan pelaku usaha kecil.

Keputusan tersebut menjadi titik balik. Lokasi usaha yang berada di jalur strategis Denpasar–Bedugul membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan. Kini, Depot Betty berkembang dengan beberapa outlet, terutama di kawasan Bedugul sebagai destinasi wisata.

Di tengah banyaknya usaha kuliner yang gagal dalam beberapa tahun pertama, Depot Betty justru mampu bertahan hingga dua dekade lebih. Bayu menegaskan, konsistensi menjadi kunci utama.

“Kami sangat terbuka dengan komplain. Dari situ kami tahu apa yang harus diperbaiki,” jelasnya.

Dalam operasionalnya, Depot Betty mengolah sekitar 5 hingga 6 ekor babi setiap hari dari seluruh outlet. Bahan baku diperoleh dari peternak lokal di wilayah Pancasari, Candikuning, hingga Baturiti. Bayu juga selektif dalam memilih jenis babi seperti saddleback, chester, dan yorkshire demi menghasilkan tekstur kulit yang renyah.

“Lemak itu penting untuk hasil akhir. Kulit jadi lebih kriuk,” katanya.

Di balik pertumbuhan tersebut, akses permodalan menjadi faktor penting. Sejak 2014, Bayu memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk memperkuat modal sekaligus memperbaiki manajemen keuangan.

“Dari awal kami dibantu dari sisi modal. Bahkan sampai pelunasan kredit juga berjalan lancar,” ungkapnya.

Selain pembiayaan, transformasi digital turut mendorong efisiensi usaha. Depot Betty kini telah menerapkan sistem pembayaran non-tunai melalui QRIS, EDC, dan aplikasi BRImo. Seluruh transaksi tercatat otomatis sehingga memudahkan kontrol keuangan.

“Dengan digitalisasi, semua pemasukan tercatat. Jadi lebih mudah kontrol keuangan dan risiko kehilangan bisa ditekan,” ujar Bayu.

Penggunaan BRImo juga memungkinkan pemantauan arus kas secara real-time, transfer cepat, hingga pembayaran operasional tanpa harus ke kantor cabang. Fitur notifikasi transaksi dinilai membantu meminimalisir kesalahan pencatatan.

Bayu mencatat sekitar 50 persen transaksi kini dilakukan secara non-tunai, didominasi generasi muda namun mulai merambah kelompok usia lebih tua.

“Sekarang bukan hanya Gen Z, orang tua juga sudah banyak pakai non-tunai karena praktis,” tambahnya.

Meski memiliki peluang ekspansi ke pasar yang lebih luas, Bayu memilih fokus menjaga stabilitas usaha. Ia menilai mempertahankan kualitas dan keberlanjutan bisnis lebih penting dibanding ekspansi agresif.

“Kami fokus bagaimana usaha ini tetap berjalan dengan baik. Memaksimalkan yang sudah ada dulu,” tegasnya.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan digitalisasi menjadi kunci bagi UMKM untuk bertahan di tengah dinamika pasar.

“BRI berkomitmen untuk terus mendorong digitalisasi UMKM melalui layanan perbankan digital, pendampingan, serta ekosistem terintegrasi agar UMKM bisa naik kelas dan memperluas akses pasar,” ujarnya.

Melalui layanan seperti BRImo, QRIS, dan berbagai platform pemberdayaan, BRI optimistis dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.(BHI01)