BRILink Ubah Nasib Warung Sembako di Klungkung, Transaksi Tembus 150 Kali Sehari

BALIHARIINI.COM—Di tengah kawasan padat pekerja rantauan di Kabupaten Klungkung, Bali, sebuah warung sembako sederhana milik Desi Hidayanti Damuri kini tak hanya menjadi tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, warung tersebut berkembang menjadi pusat layanan transaksi keuangan yang ramai dikunjungi masyarakat melalui program Agen BRILink.
Perjalanan itu dimulai sekitar 14 tahun lalu ketika Desi memutuskan bergabung menjadi Agen BRILink. Saat itu, layanan transfer uang belum sepopuler sekarang dan masyarakat masih mengandalkan kantor bank atau mesin ATM untuk melakukan transaksi.
Desi mengaku awalnya belum memahami sistem layanan BRILink. Ketertarikannya muncul setelah mendapatkan informasi dari rekannya yang lebih dahulu menjadi agen. Keputusan tersebut kemudian membuka peluang usaha baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Dulu orang-orang masih banyak yang bingung transfer. Kalau kirim uang ya harus ke bank atau ATM. Karena di sini banyak pekerja pendatang, akhirnya mereka mulai cari tempat transfer yang lebih dekat,” ujar Desi.
Pada masa awal operasional, transaksi yang masuk masih sangat terbatas. Dalam sehari, hanya tiga hingga empat orang yang memanfaatkan layanan transfer di warungnya. Dengan modal awal sekitar Rp10 juta, keuntungan yang diperoleh pun belum terlalu besar.
Meski demikian, Desi melihat potensi yang menjanjikan. Ia kemudian memutuskan menambah modal dan terus mengembangkan layanan yang tersedia.
“Awalnya paling cuma tiga sampai empat orang transaksi. Fee-nya sedikit, tapi saya lihat ada peluang. Akhirnya saya berani tambah modal lagi,” katanya.
Keberadaan warungnya yang berada di lingkungan dengan banyak pekerja dari luar Bali menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan usaha tersebut. Banyak pelanggan datang untuk mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman. Seiring waktu, kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan semakin meningkat.
Menariknya, jika dahulu transfer uang menjadi layanan utama, kini transaksi tarik tunai justru mendominasi. Banyak pekerja pelabuhan dan buruh angkut barang memanfaatkan layanan tersebut untuk kebutuhan pembayaran upah harian.
“Kalau sekarang malah banyak yang tarik tunai. Ada yang sehari narik Rp10 juta sampai Rp15 juta berkali-kali,” ungkapnya.
Aktivitas transaksi yang terus meningkat membuat warung Desi semakin ramai. Dalam kondisi normal, jumlah transaksi harian bisa mencapai 100 hingga 150 kali. Selain transfer dan tarik tunai, pelanggan juga memanfaatkan layanan top up dompet digital, pembelian pulsa, hingga pembayaran tagihan listrik.
Bagi Desi, manfaat menjadi Agen BRILink tidak hanya dirasakan dari tambahan pendapatan jasa transaksi. Kehadiran pelanggan yang datang untuk bertransaksi turut menghidupkan usaha warung sembako yang ia jalankan.
“Dulu warung sepi sekali. Barang juga sedikit. Sekarang orang datang transfer sekalian beli beras, mie, kebutuhan lain. Sangat membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.
Pertumbuhan usaha tersebut secara perlahan turut meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pendapatan dari layanan BRILink rutin disisihkan untuk tabungan dan investasi, sekaligus membantu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
Meski kini menikmati hasil yang positif, perjalanan Desi sebagai Agen BRILink tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kerugian hingga Rp5 juta akibat transaksi gagal ketika sistem layanan digital masih dalam tahap pengembangan.
“Dulu pernah transfer Rp5 juta tapi struk nggak keluar. Saya ulang lagi karena belum ngerti sistemnya. Ternyata saldo kepotong dua kali. Setelah diurus ke Bank, alhamdullilah saldo bisa kembali,” kenangnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih memahami mekanisme transaksi digital dan mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin terjadi, seperti gangguan jaringan atau transaksi tertunda.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya mengatakan Agen BRILink hadir sebagai perpanjangan tangan BRI dalam memperluas akses layanan perbankan hingga menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya memudahkan masyarakat memperoleh layanan keuangan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi pelaku usaha mikro dan pemilik toko kelontong.
“Dengan menjadi Agen BRILink, masyarakat tetap bisa menjalankan usaha utamanya sambil memperoleh tambahan penghasilan dari layanan perbankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan akses layanan keuangan di sejumlah daerah dapat diatasi melalui jaringan Agen BRILink yang kini hadir di lingkungan permukiman, kawasan pekerja, hingga wilayah yang jauh dari kantor layanan perbankan.
Saat ini tercatat sebanyak 4.182 Agen BRILink aktif tersebar di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Jumlah tersebut menunjukkan semakin besarnya peran agen dalam mendukung inklusi keuangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Bagi Desi, perjalanan dari warung sembako sederhana hingga menjadi pusat transaksi keuangan masyarakat menjadi bukti bahwa peluang usaha dapat tumbuh dari kebutuhan sehari-hari. Dengan konsistensi dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan layanan digital, usaha kecil yang dirintisnya kini menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi warga sekitar.(BHI-01)