Memuat waktu...

Utama Spice, Brand Skincare Alami Bali yang Tumbuh dari Racikan Keluarga hingga Go Internasional

Balihariini • Friday, 13 March 2026 | 22:34 WITA • Lifestyle, News • 👁 75 dibaca
Utama Spice, Brand Skincare Alami Bali yang Tumbuh dari Racikan Keluarga hingga Go Internasional
Ria Templer menunjukkan berbagai produk skincare dan aromaterapi alami dari brand Bali Utama Spice di pabrik Gianyar _ Bhi-01

BALIHARIINI.COM—Perjalanan sebuah produk lokal menembus pasar global sering kali berawal dari cerita sederhana. Hal itu pula yang dialami brand skincare dan aromaterapi alami asal Bali, Utama Spice, yang kini dikenal di berbagai negara setelah memulai langkahnya dari usaha rumahan lebih dari tiga dekade lalu.

Didirikan pada 1989, perusahaan ini konsisten mengembangkan produk perawatan tubuh berbahan alami sekaligus membangun hubungan erat dengan petani lokal sebagai penyedia bahan baku.

Upaya tersebut membawa Utama Spice berkembang pesat hingga menembus pasar internasional seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, hingga Singapura.

Direktur sekaligus Co-Founder PT Supa Dupa Spice, Ria Templer, menjelaskan bahwa saat ini Utama Spice memiliki hampir 200 varian produk skincare dan aromaterapi yang diproduksi di fasilitas manufaktur mereka di kawasan Babakan, Gianyar.

“Di sini kami memproduksi skincare alami dan aromaterapi dengan standar kualitas tinggi. Kami juga langsung mengambil bahan baku dari petani lokal untuk mengangkat komunitas,” ujar Ria saat menerima kunjungan awak media, Jumat, 13 Maret 2026.

Kisah Utama Spice tidak dimulai dari laboratorium besar, melainkan dari dapur rumah tangga. Sekitar 30 tahun lalu, sang pendiri, Dayu Suci, meracik bahan-bahan alami untuk merawat anak-anaknya.

Racikan tersebut perlahan dikenal oleh lingkungan sekitar. Banyak orang mulai datang langsung ke rumah untuk memesan produk perawatan kulit dan rambut berbahan alami.

Permintaan pun terus berkembang hingga sejumlah hotel mewah di Bali mulai memesan produk tersebut untuk kebutuhan spa mereka.

“Awalnya orang datang ke rumah untuk meminta produk alami. Lama-lama hotel seperti Four Seasons Resort Bali dan Banyan Tree juga memesan untuk spa mereka,” kata Ria.

Melihat permintaan yang semakin meningkat, usaha keluarga ini kemudian resmi menjadi perusahaan pada tahun 2000. Sejak saat itu, Utama Spice berkembang hingga memiliki pabrik produksi modern seperti saat ini.

Selain fokus pada kualitas produk, perusahaan ini juga membangun kemitraan dengan petani lokal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku alami.

Beberapa tanaman yang digunakan antara lain nilam, serai wangi, citronella hingga cengkeh yang kemudian disuling menjadi minyak atsiri.

Menurut Ria, kerja sama tersebut bukan sekadar memastikan pasokan bahan baku, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Kami ingin memberi nilai tambah bagi petani. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi juga tanaman yang bisa disuling menjadi minyak atsiri seperti citronella atau lemongrass yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui kebutuhan bahan baku yang besar membuat sebagian pasokan masih harus didatangkan dari luar Bali.

Saat ini pabrik Utama Spice mempekerjakan sekitar 84 tenaga kerja lokal. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring pertumbuhan perusahaan.

Aktivitas pekerja saat mengemas produk perawatan alami Utama Spice yang dipasarkan hingga pasar internasional _ bhi-01
Aktivitas pekerja saat mengemas produk perawatan alami Utama Spice yang dipasarkan hingga pasar internasional _ bhi-01

Dari sisi kapasitas produksi, perusahaan mampu menghasilkan hingga 10.000 liter produk per hari, tergantung pada permintaan pasar.

Beberapa produk yang menjadi favorit konsumen di antaranya minyak esensial, serum wajah, hingga insect repellent berbahan alami.

Di tengah tren industri kecantikan global, Utama Spice memilih mempertahankan prinsip ramah lingkungan sebagai identitas utama.

Perusahaan bahkan berani menolak penggunaan bahan tertentu yang dinilai berpotensi merusak ekosistem.

Dimana Utama Spice ingin menunjukkan bahwa produk lokal Bali tidak hanya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar global, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan serta komunitas sekitar.

“Kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal juga bisa bersaing di pasar dunia, sekaligus membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.(BHI01)