Memuat waktu...

Warisan Tedung Bali Tetap Bertahan, Suwastika Andalkan KUR BRI dan BRImo untuk Kembangkan Usaha

Balihariini • Friday, 19 June 2026 | 20:52 WITA • News, Teknologi • 👁 47 dibaca
Warisan Tedung Bali Tetap Bertahan, Suwastika Andalkan KUR BRI dan BRImo untuk Kembangkan Usaha
Perajin tedung di Paksebali Klungkung merangkai payung upacara Bali untuk memenuhi permintaan pasar _ bhi-ist

BALIHARIINI.COM—Tradisi pembuatan tedung atau payung upacara khas Bali masih terus bertahan di tengah tantangan zaman. Di kawasan Puri Satria Kanginan, Paksebali, Kabupaten Klungkung, para perajin tetap menjaga warisan budaya tersebut meski harus menghadapi keterbatasan bahan baku dan tenaga kerja.

Salah satu perajin yang masih konsisten menjalankan usaha tersebut adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika. Pria berusia 56 tahun itu melanjutkan usaha keluarga yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu setelah mengakhiri kariernya di sektor perhotelan sekitar empat tahun silam.

Suwastika mengatakan keterampilannya membuat tedung diperoleh dari lingkungan keluarga. Sejak kecil, ia telah terbiasa melihat sang ibu mengerjakan berbagai kebutuhan upacara adat Bali, termasuk tedung.

“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung. Jadi basic-nya memang dari keluarga,” ujar Suwastika.

Di rumah produksinya yang berada di lingkungan Puri Satria Kanginan, proses pengerjaan tedung kini lebih banyak difokuskan pada tahap menjahit dan merangkai. Sementara sejumlah komponen lain, seperti rangka dan bahan dasar, telah dipersiapkan oleh pekerja yang berbeda.

Dalam kondisi normal, Suwastika mampu memproduksi sekitar 20 tedung berukuran satu meter setiap hari. Namun menjelang Hari Raya Galungan, permintaan pasar meningkat signifikan sehingga kapasitas produksi dapat melonjak hingga 40 sampai 50 unit per hari.

Lonjakan pesanan tersebut sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi para perajin karena ketersediaan bahan baku sering kali terbatas.

“Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.

Tedung yang diproduksi memiliki beragam ukuran, mulai dari 90 sentimeter hingga satu seperempat meter. Harga jualnya berkisar antara Rp65 ribu hingga Rp125 ribu per unit, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Menurut Suwastika, tedung ukuran satu meter dengan kualitas halus menjadi produk yang paling banyak dicari konsumen. Selain model standar, ia juga melayani pembuatan tedung agung yang memiliki ornamen lebih kompleks dan membutuhkan keterampilan khusus.

Produk-produk tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Bali, seperti Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari di Denpasar. Dalam periode normal, pesanan dapat mencapai sekitar 200 unit setiap dua hingga tiga minggu. Saat musim hari raya, jumlah permintaan bahkan bisa meningkat hingga dua kali lipat.

Meski peluang pasar masih terbuka lebar, tantangan terbesar yang dihadapi para perajin adalah sulitnya memperoleh bahan baku, terutama kayu dan bambu untuk pembuatan rangka tedung. Kayu yang digunakan umumnya berasal dari pohon buah seperti durian dan wani.

“Kalau musim hujan lebih susah lagi cari bahan,” ujarnya.

Usaha pembuatan tedung di Puri Satria Kanginan sendiri telah berkembang menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali yang tidak hanya memproduksi tedung, tetapi juga berbagai perlengkapan upacara adat Bali lainnya seperti prada dan ider-ider.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, Suwastika memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI senilai Rp100 juta.

Dana tersebut digunakan untuk memperkuat persediaan bahan baku sehingga proses produksi tetap berjalan ketika pesanan meningkat, terutama menjelang hari raya besar keagamaan.

“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali,” kata Suwastika.

Dukungan perbankan tidak hanya hadir melalui pembiayaan. Digitalisasi layanan keuangan juga mulai menjadi bagian penting dalam aktivitas usaha para perajin tedung.

Saat ini, sebagian besar transaksi pembayaran dengan pelanggan dilakukan melalui transfer digital menggunakan aplikasi BRImo. Sistem pembayaran non tunai dinilai lebih praktis, terutama ketika pelanggan melakukan pembayaran uang muka sebelum barang dikirim.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menilai usaha pembuatan tedung memiliki potensi ekonomi yang besar karena permintaannya terus ada, khususnya di Bali yang memiliki tradisi adat dan keagamaan yang kuat.

“Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Menurut Hery, pemanfaatan layanan digital seperti BRImo membantu pelaku usaha mengelola transaksi secara lebih efisien, mulai dari pembayaran pelanggan, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan.

Ia menambahkan, digitalisasi menjadi kebutuhan yang semakin penting seiring meningkatnya penggunaan transaksi non tunai di masyarakat.

“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya.

Keberhasilan para perajin tedung di Paksebali menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Dukungan pembiayaan dan layanan digital membuka peluang bagi usaha berbasis budaya untuk tetap tumbuh sekaligus menjaga warisan adat Bali agar terus lestari di tengah perubahan zaman.(BHI-01)