Memuat waktu...

Modal KUR BRI Bikin Usaha Pemindangan Kusamba Makin Moncer, Produksi Capai 300 Keranjang per Hari

Balihariini • Monday, 25 May 2026 | 16:35 WITA • News • 👁 49 dibaca
Modal KUR BRI Bikin Usaha Pemindangan Kusamba Makin Moncer, Produksi Capai 300 Keranjang per Hari
Pelaku UMKM pemindangan Kusamba memproduksi ratusan keranjang ikan per hari berkat dukungan KUR BRI_ bhi-ist

BALIHARIINI.COM—Aktivitas pemindangan ikan di Sentra Pemindangan Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, terus menggeliat di tengah tantangan pasokan bahan baku dan kenaikan biaya produksi. Dukungan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kapasitas produksi para pelaku usaha di kawasan pesisir tersebut.

Salah satu pelaku usaha pemindangan, Ni Wayan Suitari (42), mengaku usahanya kini mampu memproduksi hingga 300 keranjang ikan pindang per hari dalam kondisi normal. Produksi dilakukan sejak pagi dan sebagian besar hasil rebusan biasanya langsung diambil pembeli sebelum siang hari.

“Kalau sudah panas, perebusan sekitar 15 menit sekali angkat. Mulai jam tujuh pagi, biasanya jam sebelas sudah diambil pembeli,” ujar Suitari.

Menurut Suitari, jumlah produksi sangat bergantung pada ketersediaan pasokan ikan dan permintaan pasar. Saat permintaan meningkat, kapasitas produksi bisa bertambah lebih tinggi dari biasanya.

Pasokan ikan yang dipindang berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Negara, Karangasem hingga Jawa. Ketika musim paceklik ikan melanda Bali, suplai dari luar daerah menjadi penopang utama agar aktivitas produksi tetap berjalan.

“Kalau musim ikan kurang biasanya pertengahan tahun atau akhir tahun. Kadang ikan dari Jawa juga susah,” katanya.

Suitari menuturkan dirinya telah menjadi nasabah BRI selama lebih dari satu dekade. Selama itu pula, ia sudah dua kali mendapatkan pinjaman KUR dengan total mencapai Rp100 juta. Modal tersebut awalnya digunakan untuk usaha penjualan keranjang ikan sebelum kemudian berkembang ke usaha pemindangan dan penjualan garam.

“Awalnya untuk jual keranjang dulu. Setelah berkembang baru jual garam dan bantu modal usaha pindang,” ujarnya.

Ia menilai akses pembiayaan KUR sangat membantu pelaku usaha kecil karena proses pencairannya cepat dan persyaratannya relatif mudah dipenuhi. Meski demikian, pihak perbankan tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan usaha nasabah.

“Cepat cair dan mudah, tapi pihak bank sering datang mengecek usaha juga,” katanya.

Dalam aktivitas sehari-hari, para pembeli biasanya datang membawa ikan mentah untuk direbus di lokasi pemindangan. Pelaku usaha memperoleh pemasukan dari jasa perebusan ikan, penjualan garam, hingga penjualan keranjang.

Namun, tingginya biaya produksi masih menjadi tantangan utama. Suitari mengungkapkan kebutuhan garam menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam operasional usaha. Ia memilih menggunakan garam asal Bima, Nusa Tenggara Barat, karena dinilai lebih cocok untuk proses pemindangan.

“Garam Bima lebih kasar dan lebih asin,” ujarnya.

Harga garam Bima mencapai sekitar Rp200 ribu per 50 kilogram. Sementara penggunaan garam lokal untuk produksi 400 keranjang ikan membutuhkan sekitar 75 kilogram garam dengan biaya mencapai Rp500 ribu.

Selain itu, biaya peralatan produksi juga cukup tinggi. Satu unit kompor berkapasitas besar dibanderol sekitar Rp1 juta, belum termasuk tungku dan perlengkapan pendukung lainnya.

Meski dihadapkan pada kenaikan biaya operasional dan fluktuasi pasokan ikan, aktivitas pemindangan di Kusamba tetap berjalan hampir setiap hari. Sentra ini juga menjadi salah satu pemasok utama ikan pindang bagi pasar tradisional di Bali sekaligus menyerap tenaga kerja harian di wilayah pesisir.

“Kami libur sendiri kalau memang tidak ada produksi atau ada acara,” kata Suitari.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk sektor pemindangan ikan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir.

Melalui program KUR, BRI memberikan akses pembiayaan guna membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat modal kerja, hingga memperluas pengembangan usaha secara berkelanjutan.

“Melalui penyaluran KUR, kami berharap para pelaku usaha dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” ujar Hery.

Selain pembiayaan, BRI juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan dan pemanfaatan layanan digital perbankan bagi UMKM agar transaksi usaha menjadi lebih efisien.

BRI optimistis dukungan terhadap sektor usaha pemindangan ikan mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ekosistem UMKM di Bali dan Nusa Tenggara.(BHI-01)