Parisudha Jagat Digelar di Jembatan Tukad Bangkung, Doa Bersama Digaungkan Hentikan Tragedi Bunuh Diri

BALIHARIINI.COM–Rentetan kasus bunuh diri yang berulang di kawasan Jembatan Tukad Bangkung, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, kembali menggugah keprihatinan publik. Jembatan tertinggi di Bali sekaligus Asia Tenggara itu tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar tentang upaya kolektif yang perlu dilakukan agar tragedi serupa tidak terulang.
Sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan kultural, Pemerintah Provinsi Bali bersama tokoh adat dan masyarakat menggelar Upacara Yadnya Parisudha Jagat di kawasan Jembatan Tukad Bangkung. Upacara ini diikuti langsung oleh Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta, Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Duta Pengolahan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS) Putri Suastini Koster, serta Ketua BKOW Provinsi Bali **Ny. Seniasih Giri Prasta.
Upacara Parisudha Jagat dimaknai sebagai langkah penyucian dan pemulihan keseimbangan kawasan, baik secara sekala maupun niskala. Kawasan Tukad Bangkung selama ini diyakini menyimpan beban spiritual akibat ketidakharmonisan hubungan manusia dengan alam dan ruang sakral di sekitarnya.
Berdasarkan kajian sosiologis dan kepercayaan lokal, wilayah Jembatan Tukad Bangkung dipercaya sebagai kawasan kerajaan wong samar. Pada proses pembangunan jembatan, diyakini belum sepenuhnya dilakukan permohonan izin secara niskala, sehingga meninggalkan ketidakseimbangan energi yang diyakini dapat memengaruhi kondisi batin dan psikologis individu tertentu.
Fenomena bunuh diri di kawasan ini pun dinilai tidak bisa dipahami semata dari aspek fisik atau keamanan. Kesadaran spiritual masyarakat Bali, khususnya keseimbangan dalam praktik beragama, menjadi sorotan. Selama ini, hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dinilai kerap lebih dominan, sementara hubungan horizontal dengan alam sebagai sumber kehidupan justru terabaikan.
Secara etimologis, kata bangkung dan tukad sama-sama merepresentasikan unsur feminin, ibu dan bumi. Makna ini mengingatkan manusia agar kembali berpijak dengan kesadaran, menghormati alam sebagai ibu yang memberi kehidupan. Melalui Parisudha Jagat, masyarakat diajak kembali “ber-Tuhan di bumi”, menjaga harmoni antara spiritualitas dan lingkungan.
Rangkaian upacara berlangsung khidmat. Setelah doa bersama, dilakukan pelepasan simbol kehidupan berupa dua ekor kebo putih lanang dan wadon yang selanjutnya dihaturkan sebagai kebo duwe di Desa Plaga. Prosesi berlanjut dengan pelepasan 33 ekor burung dan 33 lampion di pintu masuk Jembatan Tukad Bangkung. Angka 33 dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan penyucian, sekaligus doa agar kehidupan kembali menemukan jalannya.
Upacara dipuput oleh Jro Mangku Gede Made Pawitra dari Desa Bulian, didampingi para mangku dan prajuru adat dari Desa Bulian, Pelaga, Sidan, Tambakan, Selulung, dan Kubutambahan. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Wakil Bupati Bangli Wayan Diar, Anggota DPRD Provinsi Bali Made Sumiati, serta jajaran pimpinan OPD Provinsi Bali.
Sebagai bentuk dukungan, Wakil Gubernur Bali menyerahkan punia sebesar Rp25 juta, sementara Putri Suastini Koster menyumbangkan tiga ekor kerbau untuk mendukung kelancaran pelaksanaan upacara.
Secara filosofis, Yadnya Parisudha Jagat merupakan bagian dari konsep Sad Kerthi, enam upaya menjaga kesucian alam semesta. Upacara ini bertujuan membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (manusia) demi mewujudkan keharmonisan sekala dan niskala, serta memohon kerahayuan jagat, kehidupan yang suci, tegak, dan bermartabat.
Pelaksanaan upacara juga menjadi wujud gotong royong lintas elemen, melibatkan Yayasan BOA, Tim PSBS PADAS, Paiketan Spiritual, Yayasan Bali Mula, Paiketan Kerama Bali, hingga tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan jiwa dan kelestarian alam.
Lebih dari sekadar ritual, Parisudha Jagat di Jembatan Tukad Bangkung menjadi pengingat bahwa persoalan bunuh diri membutuhkan pendekatan menyeluruh medis, sosial, keamanan, serta spiritual dan kultural. Jembatan yang menghubungkan Badung, Bangli, dan Buleleng itu diharapkan kembali menjadi simbol peralihan menuju kebajikan dan harapan.
Dengan digelarnya upacara ini, harapan pun disematkan agar Jembatan Tukad Bangkung kembali menjadi jembatan kehidupan, bukan jembatan kematian—ruang refleksi yang mengajak manusia berhenti sejenak, menunduk pada bumi, dan memilih untuk tetap hidup.