Memuat waktu...

Bandara Ngurah Rai Gelar Simulasi Airport Emergency Exercise (AEE) Skala Penuh, Tiga Skenario Diuji

Balihariini • Friday, 25 September 2026 | 08:10 WITA • News • 👁 55 dibaca
Bandara Ngurah Rai Gelar Simulasi Airport Emergency Exercise (AEE) Skala Penuh, Tiga Skenario Diuji
Petugas mengikuti simulasi Airport Emergency Exercise di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali untuk menguji kesiapsiagaan darurat _ bhi-ist

MANGUPURA, BALIHARIINI.COM—Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menggelar Airport Emergency Exercise (AEE) atau latihan penanganan keadaan darurat skala penuh. Latihan ini menguji kesiapan personel sekaligus koordinasi lintas instansi dalam menghadapi berbagai situasi darurat di kawasan bandara.

Dalam latihan tersebut, pengelola bandara mensimulasikan tiga kondisi berbeda, yakni kebakaran gedung, gangguan keamanan, hingga kecelakaan pesawat.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati, mengatakan latihan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh unsur bandara mampu merespons keadaan darurat secara cepat dan terkoordinasi.

“Sebagai pintu gerbang udara utama di Bali yang melayani hingga 24 juta penumpang dan lebih dari 140 ribu pergerakan pesawat setiap tahunnya, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan seluruh instansi dalam menghadapi keadaan darurat menjadi sangat penting,” kata Nugroho.

Menurut dia, AEE tidak hanya menguji kemampuan personel di lapangan, tetapi juga memastikan prosedur operasional dan dokumen penanggulangan keadaan darurat dapat diterapkan secara efektif.

Dokumen yang diuji antara lain Airport Emergency Plan (AEP), Airport Security Programme (ASP), serta Airport Disaster Management Plan (ADMP).

“Dalam Airport Emergency Exercise ini, fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antarunit dan instansi komunitas bandara diuji,” ujarnya.

Simulasi Gempa Picu Kebakaran Gedung

Skenario pertama berupa Building Fire Exercise. Simulasi dimulai dengan gempa bumi berkekuatan 5,9 SR yang berpusat di sekitar Selat Lombok dengan kedalaman 8 kilometer.

Guncangan tersebut digambarkan memicu kepanikan pengguna jasa bandara dan berdampak terhadap aktivitas di Hotel Novotel yang berada di kawasan bandara.

Dalam skenario tersebut, seorang pegawai yang sedang memasak meninggalkan dapur saat gempa terjadi. Kondisi itu kemudian menyebabkan korsleting hingga memicu kebakaran.

Petugas hotel sempat berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan atau APAR. Namun, api terus membesar sehingga petugas meminta bantuan Airport Rescue & Fire Fighting (ARFF).

Personel ARFF kemudian melakukan pemadaman sekaligus mengevakuasi korban yang terdampak asap dari dalam gedung.

Latihan ini menguji kecepatan respons ARFF, jalur komunikasi serta penerapan ADMP dalam menangani kebakaran dan proses evakuasi.

Ransel Berisi Bom Jadi Skenario Gangguan Keamanan

Simulasi berikutnya menguji aspek keamanan melalui Airport Security Exercise.

Dalam skenario ini, seorang petugas kebersihan yang telah direkrut kelompok pengganggu keamanan membawa sebuah ransel berisi bom rakitan menuju ruang tunggu keberangkatan General Aviation Terminal (GAT).

Petugas Airport Security kemudian menghentikan dan meminta ransel tersebut diperiksa menggunakan mesin x-ray. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya rangkaian bom di dalam tas.

Petugas kebersihan tersebut kemudian meninggalkan ransel dan melarikan diri. Personel keamanan selanjutnya berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk menangani ancaman tersebut.

Skenario ini menguji kemampuan personel keamanan, efektivitas peralatan pemeriksaan, serta koordinasi antaranggota Airport Security Committee, termasuk keterlibatan Pecalang.

Selain itu, latihan juga menguji penerapan Airport Security Programme (ASP) dalam menghadapi potensi ancaman terhadap keselamatan penerbangan.

Pesawat Boeing 777 Disimulasikan Kecelakaan

Latihan ditutup dengan Aircraft Accident Exercise, yakni simulasi kecelakaan pesawat udara.

Dalam skenario tersebut, pesawat Boeing 777-200ER milik Angkasa Air dengan nomor penerbangan AA239 membawa 350 penumpang dan awak pesawat.

Pesawat mengalami kecelakaan sesaat setelah melakukan touchdown di landasan pacu dan kemudian terbakar.

Setelah menerima laporan dari petugas ATC di menara AirNav Indonesia, personel ARFF bergerak menuju lokasi untuk memadamkan api dan mengevakuasi penumpang.

Simulasi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kantor Otoritas Bandara, AirNav Indonesia, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Imigrasi, Bea Cukai, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, ground handling, maskapai penerbangan, kepolisian, TNI AU, rumah sakit, hingga pemadam kebakaran.

Dari total 350 penumpang dan awak pesawat dalam skenario, sebanyak 187 orang disimulasikan selamat, 143 orang mengalami luka-luka, dan 20 orang meninggal dunia.

Nugroho mengatakan keterlibatan banyak instansi dalam latihan tersebut bertujuan memperkuat pola komunikasi dan koordinasi apabila keadaan darurat benar-benar terjadi.

“Dalam Airport Emergency Exercise skala penuh ini turut diikuti oleh berbagai instansi anggota komunitas bandara dan instansi eksternal lainnya, dengan tujuan untuk memperkuat jalur koordinasi dan komunikasi jika terjadi kondisi darurat yang sebenarnya,” pungkas Nugroho.(BHI01)